Ringgit Malaysia, misanya hanya menguat tipis bersama yen Jepang, masing-masing 0,04% dan 0,03%. Sebaliknya, won Korea Selatan dan dolar Singapura melemah terbatas di 0,06% dan 0,02%.
Pelaku pasar masih berhati-hati terhadap tercapainya kesepakatan di Timur Tengah, sambil menanti data inflasi AS yang akan dirilis hari ini, waktu setempat.
Data inflasi AS merupakan data yang paling ditunggu karena akan menunjukkan apakah tren disinflasi masih berlanjut dan memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan Federal Reserve. Investor juga akan mencermati PPI, penjualan ritel, klaim pengangguran, serta komentar sejumlah pejabat The Fed, pada hari Kamis (12/8/2026).
Berdasarkan survei, inflasi tahunan AS diperkirakan sedikit terpangkas menjadi 3,4%, lebih rendah dari posisi sebelumnya 3,5%. Begitu juga dengan inflasi inti tahunan diproyeksikan lebih rendah jadi 2,5% dari sebelumnya 2,6%.
Sentimen positif bagi rupiah diperkirakan tak cuma datang dari meredanya tekanan eksternal. Dari domestik, pasar obligasi mulai memberi sinyal yang lebih konstruktif. Tekanan jual terhadap aset Indonesia yang terjadi kemarin dinilai sudah melewat fase terburuk, seiring pencalonan Destry Damayanti sebagai gubernur baru Bank Indonesia (BI).
Pelaku pasar berharap pencalonan ini memberikan kepastian terhadap arah kebijakan moneter dan stabilitas rupiah. Yield Surat Utang Negara (SUN) tenor acuan 10 tahun tercatat turun 27 basis poin (bps) dari level tertingginya sejak 2022.
Begitu juga yang terjadi kemarin, dalam lelang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) alias sukuk mencerminkan tingginya minat investor terhadap aset rupiah. Terlihat dari penawaran yang masuk melonjak 57,09% menjadi Rp39,08 triliun, dari Rp24,88 triliun pada lelang 28 Juli. Kenaikan ini setara dengan tambahan penawaran Rp14,2 triliun hanya dengan selisih dua pekan.
Kondisi ini bisa jadi bantalan bagi rupiah, di tengah ketidakpastian global. Selain itu, selisih yield antara aset Indonesia dan obligasi AS, US Treasury, juga masih dianggap lebar, dan dinilai masih menarik bagi investor asing.
Dengan kombinasi sentimen yang ada, rupiah di pasar spot berpeluang bergerak menguat terbatas di kisaran Rp17.800-17.900/US$. Penguatan lebih lanjut masih akan bergantung dengan hasil rilis data inflasi AS, arah harga minyak, serta tekanan yang terjadi di Timur Tengah.
Namun jika harga minyak bertahan tinggi lebih lama, dan ketidakpastian geopolitik masih belum sepenuhnya mereda, rupiah kemungkinan masih akan bertahan defensif ketimbang menguat secara agresif.
Analisis Teknikal
Secara teknikal nilai tukar rupiah masih ada potensi melemah, namun memang dengan laju pelemahan yang sudah terbatas di rentang sempitnya, mencermati support terdekat menuju level Rp17.850/US$ yang merupakan support pertama dengan target pelemahan kedua akan tertahan di Rp17.880/US$.
Apabila kembali break kedua support tersebut, berpotensi melemah lanjutan dengan menuju level Rp17.950/US$ sebagai support paling terkuatnya di time frame daily tepat di sMA50 nya.
Jika nilai rupiah terjadi penguatan hari ini, dengan volume kuatnya menembus resistance, menarik dicermati pada level Rp17.800/US$ dan selanjutnya kembali menuju Rp17.760/US$ secara potensial, terlebih lagi ada resistance mencapai Rp17.700/US$.
(riset/aji)






























