Logo Bloomberg Technoz

Transisi Energi Butuh Puluhan Ribu Triliun, Demi Selamatkan Dunia

News
15 August 2023 13:16

Asap dan uap dari Pembangkit di Ulaanbaatar. Fotografer: SeongJoon Cho/Bloomberg
Asap dan uap dari Pembangkit di Ulaanbaatar. Fotografer: SeongJoon Cho/Bloomberg

Clara Ferreira Marques - Bloomberg News

Bloomberg, Untuk membatasi kerusakan yang disebabkan oleh perubahan iklim, dunia perlu mengurangi emisi karbon dioksida dengan cepat di seluruh muka bumi ini, tidak hanya di negara-negara kaya.

Untuk mencapainya, negara-negara terbelakang dan berkembang membutuhkan triliunan dolar untuk mengganti pembangkit listrik tenaga batu bara dengan energi yang lebih bersih, serta memperbaiki jaringan listrik dan melatih kembali para pekerja, sebagai langkat tindak lanjutnya. 

Just Energy Transition Partnerships (JETPs) atau Kemitraan Transisi Energi Berkeadilan, merupakan salah satu mekanisme pembiayaan paling terkenal yang dirancang untuk menyalurkan dana dari negara-negara kaya ke beberapa negara berkembang yang lebih besar penghasil emisi dengan tujuan mengurangi penggunaan bahan bakar fosil.

Afrika Selatan telah menandatangani perjanjian pertama pada tahun 2021, dan beberapa perjanjian lainnya mulai berjalan, termasuk di Indonesia. Namun, prosesnya berjalan lambat dan sarat dengan nuansa politis, sehingga menimbulkan pertanyaan apakah rencana-rencana penting tersebut dapat bersifat inklusif, efektif, dan tepat waktu untuk memenuhi janjinya.

1. Apa ide besarnya?
Pembenahan ekonomi negara berpenghasilan menengah sangat penting bagi dunia untuk memenuhi target perbaikan iklimnya, di mana model JETP melihat negara-negara yang lebih kaya dan modal swasta sebagai bagian dari solusi.

Alasannya adalah: Negara-negara ini sedang menyeimbangkan kewajiban transisi energi dengan meningkatnya permintaan listrik, sementara juga bergulat dengan tantangan dari infrastruktur yang kurang memadai, keuangan pemerintah yang kurang kuat dan ketergantungan batu bara yang akut, serta prioritas domestik lainnya.

Negara-negara ini membutuhkan dukungan keuangan dan insentif untuk terus menjadikan dekarbonisasi sebagai prioritas yang setara dengan pembangunan ekonomi yang lebih luas. Dan mereka harus melakukannya dengan cara yang adil, memperhitungkan keuntungan historis yang diperoleh oleh negara-negara kaya yang tidak terbebani oleh pertimbangan lingkungan.

JETP, yang pertama kali menjadi berita utama pada pembicaraan iklim yang dipimpin oleh PBB di Glasgow pada tahun 2021, bertujuan untuk melakukan semua itu.

2. Berapa banyak uang yang dibutuhkan? 
Jumlah yang dibutuhkan sangat mengejutkan. Investasi energi bersih di pasar negara berkembang kurang dari sepersepuluh dari yang dibutuhkan untuk menjaga dunia tetap berada di jalur yang tepat untuk membatasi kenaikan suhu yang dapat menimbulkan bencana, menurut BloombergNEF.

BloombergNEF memperkirakan Indonesia sendiri akan membutuhkan dana sebesar US$3,5 triliun atau setara Rp53.730,43 triliun, jika menggunakan skenario yang paling dramatis, di mana emisi bersihnya dikurangi hingga nol pada tahun 2050. Jumlah tersebut harus dianggarkan di awal, dengan lebih banyak investasi di tahun-tahun awal.

JETP dan inisiatif-inisiatif terkait, yang ada saat ini, hanya mencakup sebagian kecil dari jumlah tersebut, namun dirancang untuk menjadi katalisator, "menghimpun" pendanaan swasta untuk mencapai jumlah yang jauh lebih besar. Namun, investasi harus meningkat dengan cepat.

BNEF memperkirakan akhir tahun lalu bahwa selama satu dekade terakhir, investasi tenaga surya dan angin di Indonesia hanya mencapai 0,03% dari total investasi global sebesar US$3,2 triliun.  

3. Mengapa batu bara menjadi fokus? 
Batu bara menghasilkan lebih dari 36% listrik dunia pada tahun 2022, menjadikannya sebagai sumber tunggal terbesar, menurut Ember, sebuah lembaga kajian mengenai iklim. Sementara di Eropa dan Amerika Serikat, pembangkit listrik tenaga batu bara mencapai akhir masa pakainya setelah puluhan tahun beroperasi, di Asia usia rata-rata pembangkit listrik tenaga batu bara masih di bawah 15 tahun.

Jika pembangkit-pembangkit listrik tersebut dibiarkan beroperasi selama di Barat, mereka akan dengan cepat menghabiskan sebagian besar emisi karbon yang tersisa untuk dikeluarkan oleh dunia dan tetap mempertahankan target pemanasan global yang ditetapkan dalam Perjanjian Paris.

Pembangkit listrik batu bara

4. Bagaimana perkembangannya?
Kemajuan pada JETP pertama, paket pembiayaan senilai US$8,5 miliar untuk Afrika Selatan, memberikan sebuah peringatan. Pembangkit listrik tenaga batu bara yang sudah tua masih menghasilkan hampir semua energi negara, armada yang bobrok yang berkontribusi pada pemadaman listrik yang merugikan ekonomi sekaligus membantu menjadikan Afrika Selatan sebagai salah satu penghasil gas rumah kaca terbesar di dunia. 

Inggris, Amerika Serikat, Jerman, Prancis, dan Uni Eropa secara keseluruhan berkomitmen pada tahun 2022 untuk mendukung rencana negara tersebut, yang mencakup penutupan dan pengalihfungsian pembangkit listrik tenaga batu bara yang dimiliki oleh Eskom Holdings SOC Ltd sebagai perusahaan listrik negara, bersamaan dengan pengembangan energi terbarukan dan penguatan jaringan listrik untuk mengatasi perubahan tersebut.

Pemerintah di Pretoria, yang telah menghadapi kemiskinan energi - kurangnya pasokan yang terjangkau, dapat diandalkan, dan berkelanjutan - dan salah satu tingkat pengangguran tertinggi di dunia, merangkul gagasan "transisi yang adil". Namun, gejolak politik telah menghambat proses tersebut. Sementara itu, pemadaman listrik yang kronis dan melumpuhkan telah mendinginkan antusiasme publik dan mendorong kekhawatiran akan keamanan energi ke permukaan. 

5. Di mana lagi hal ini terjadi?
Rencana Indonesia memiliki tujuan yang serupa namun tidak sama dengan Afrika Selatan, dalam hal ini, rencana tersebut dimaksudkan untuk memasukkan institusi komersial besar sejak awal. Kesepakatan senilai US$20 miliar yang disepakati pada tahun 2022 pada pertemuan para pemimpin Kelompok 20 di Bali dibagi secara merata dalam bentuk anggaran pemerintah dan swasta.

Sebuah rencana investasi akan selesai pada pertengahan Agustus, dan beberapa pejabat di Jakarta telah menyatakan kekhawatiran bahwa tidak akan ada cukup dana hibah atau pendanaan murah lainnya, sehingga pembersihan substansial akan datang dengan beban utang yang tidak ingin ditanggung oleh negara.

Sementara itu, bank-bank besar bergulat dengan rintangan seperti klausul yang menghalangi mereka untuk berinvestasi di batu bara. Dan para aktivis iklim mengkhawatirkan adanya celah yang memungkinkan, dalam beberapa kasus, pengguna industri besar untuk terus membangun pembangkit listrik tenaga batu bara baru untuk kebutuhan mereka sendiri. Di tempat lain:

Vietnam menyetujui paket senilai US$15,5 miliar pada bulan Desember 2022 dengan para penyandang dana, yang dipimpin oleh Uni Eropa dan Inggris, untuk membantu keluar dari batu bara dan menjadi netral karbon pada tahun 2050.

Senegal pada bulan Juni menjadi negara keempat yang mencapai kesepakatan, yang berpotensi bernilai US$2,7 miliar.

India juga termasuk dalam diskusi tentang gelombang kesepakatan JETP berikutnya, tetapi New Delhi telah menolak kesepakatan untuk menghentikan penggunaan batu bara, dan lebih memilih untuk fokus menarik investasi energi terbarukan.

6. Dapatkah modal swasta benar-benar membantu menyelesaikan masalah iklim?
Memenuhi kebutuhan investasi iklim dunia tidak diragukan lagi akan membutuhkan modal swasta, tetapi setidaknya ada dua rintangan yang menghalangi inisiatif seperti JETP untuk menarik investasi dalam jumlah besar. Yang pertama adalah risiko yang mendasari investasi di pasar negara berkembang, yang sering kali kurang dapat diprediksi dibandingkan dengan pasar negara maju, dan di mana transparansi bisa jadi kurang.

Bahkan lembaga-lembaga yang memiliki pemikiran hijau pun memiliki kewajiban fidusia kepada para pemegang saham yang dapat mencegah mereka mengambil risiko-risiko tersebut. Kedua, banyak bank dan institusi memiliki kebijakan yang sangat membatasi atau bahkan melarang investasi dalam batu bara, bahkan jika uangnya digunakan untuk menutup pembangkit listrik tenaga batubara lebih awal.

Glasgow Financial Alliance for Net Zero, sebuah kelompok payung bank dan manajer aset yang mendukung JETP, meluncurkan konsultasi publik pada bulan Juni untuk membantu menyusun pedoman baru yang akan mengubah hal tersebut. GFANZ diketuai bersama oleh Mark Carney, mantan gubernur Bank of England, dan Michael Bloomberg, pendiri Bloomberg News yang merupakan induk dari Bloomberg LP. Kedua orang ini juga merupakan utusan khusus PBB di bidang perubahan iklim. 

7. Bukankah Bank Pembangunan Asia (ADB) juga melakukan hal serupa?  
Ya, Asian Development Bank (ADB) telah bekerja sejak tahun 2021 dalam Mekanisme Transisi Energi yang juga bertujuan untuk mempercepat penghentian pembangkit listrik tenaga batu bara dan pengembangan energi terbarukan dengan memadukan pembiayaan komersial dan lunak (pinjaman di bawah suku bunga pasar dari pemberi pinjaman institusional).

Program ini dimulai di Asia Tenggara dengan Indonesia, Filipina dan Vietnam, dan kini telah meluas ke Pakistan dan Kazakhstan. Program ini berskala lebih kecil dari JETP tetapi dapat berjalan bersamaan dengan JETP.

Di Indonesia, sebuah nota kesepahaman telah ditandatangani tahun lalu untuk menjajaki pemensiunan dini pembangkit listrik tenaga batu bara di Jawa Barat, sebuah kesepakatan yang diharapkan dapat menjadi contoh bagi proyek-proyek lainnya. Sebuah kesepakatan diharapkan terjadi tahun ini.

-Dengan asistensi Antony Sguazzin.

(bbn)