Sayangnya, menurut Sutopo, sudah terdapat tanda-tanda hilirisasi bauksit bakal berujung seperti hilirisasi nikel.
Dia mengungkapkan hal tersebut tecermin dari nilai investasi bauksit yang melampaui nikel secara drastis dalam waktu pendek beberapa bulan terakhir, hingga kekhawatiran berlebihnya kapasitas produksi smelter aluminium karena banyaknya investasi dari China.
“Cadangan bauksit memang lebih besar dari nikel, sekitar 7,79 miliar ton menurut Badan Geologi. Jadi risiko utamanya adalah kelebihan pasokan dan kebocoran penerimaan negara, bukan cadangan yang cepat habis,” tegas Sutopo.
Risiko Oversupply
Adapun, Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) UI menyoroti langkah ekspansi hilirisasi bauksit di Indonesia yang dilakukan ketika China menetapkan batas maksimum produksi aluminium premier domestik sebesar 47 juta metrik ton per tahun sejak 2017.
Alasannya, kondisi tersebut memberikan peluang bagi China untuk melakukan ekspansi smelter alumina–aluminium di Indonesia, hingga dikhawatirkan menyebabkan kelebihan pasokan atau oversupply seperti yang terjadi di nikel.
LPEM UI dalam risetnya mengungkapkan ruang ekspansi terbatas di China membuat perusahaan aluminium besar menjadikan Indonesia sebagai basis produksi di luar negeri untuk memperluas kapasitas baru.
LPEM UI menyoroti terdapat keselarasan antara kebijakan Indonesia melarang ekspor bijih bauksit pada 2023, dengan keterbatasan kapasitas produksi aluminium China.
LPEM UI mencatat kapasitas produksi alumina Indonesia melonjak dari 3,3 juta metrik ton pada 2022 menjadi sekitar 5,9 juta metrik ton pada 2025.
Sebagai informasi, Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) melaporkan realisasi investasi hilirisasi pada kuartal III-2026 mencapai Rp179,9 triliun atau naik 19,4% secara year on year (yoy).
Hilirisasi bauksit tercatat menjadi penopang realisasi investasi hilirisasi kuartal III-2026 dengan besaran Rp61,9 triliun, lebih tinggi dari investasi hilirisasi nikel senilai Rp48 triliun.
Pada periode yang sama, realisasi investasi besi baja tercatat mencapai Rp10,5 triliun, realisasi investasi tembaga Rp2,1 triliun, emas dan perak Rp1,6 triliun, serta sektor mineral lainnya Rp4,5 triliun.
Secara umum, realisasi investasi hilirisasi mineral pada kuartal III-2026 tercatat mencapai Rp128,6 triliun.
“Capaian realisasi investasi triwulan III-2026 mencapai Rp528,7 triliun. Sementara itu, total investasi dari Januari sampai September 2026 mencapai Rp1.539,2 triliun atau 75,4% dari target,” kata Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Perkasa Roeslani dalam konferensi pers di Istana Kepresidenan, Senin (19/10/2026).
Sepanjang Januari—September 2026, realisasi investasi hilirisasi mencapai Rp480 triliun atau tumbuh 11,3% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sektor hilirisasi mineral menopang investasi sepanjang Januari—September 2026 dengan nilai Rp335,1 triliun.
Secara terperinci, hilirisasi nikel masih menjadi penopang investasi hilirisasi hingga kuartal III-2026 yakni senilai Rp118,9 triliun.
Posisi kedua ditempati bauksit dengan realisasi investasi hilirisasi sebesar Rp115,7 triliun. Ketiga, hilirisasi besi baja dengan realisasi investasi Rp40,8 triliun.
Kemudian, hilirisasi tembaga dengan realisasi investasi sebesar Rp39,5 triliun, hilirisasi pasir silika dengan realisasi Rp7 triliun, dan hilirisasi komoditas mineral lainnya dengan realisasi Rp13,2 triliun.
(azr/wdh)


























