Logo Bloomberg Technoz

Harga minyak mentah Brent melonjak hingga di atas US$112/barel pada Kamis (22/10/2026), seiring dengan meningkatnya kekhawatiran bahwa kekerasan yang terjadi dapat menyebabkan gangguan lebih lanjut pada pasokan minyak dari Arab Saudi.

"Kapasitas penyimpanan komersial yang tersedia melalui mitra saat ini terbatas. Kapasitas yang lebih besar justru terdapat pada apa yang kita sebut sebagai penyimpanan strategis milik pemerintah," ujar Nasser dalam sebuah wawancara dengan Al Arabiya pada Kamis.

"Kementerian Energi sedang berkoordinasi dengan pihak terkait di negara lain untuk membuka akses bagi Aramco agar dapat memanfaatkan penyimpanan strategis tersebut."

Saat ini, Aramco telah memiliki fasilitas penyimpanan minyak komersial di Korea Selatan, Jepang, Belanda, serta di pusat ekspor Sidi Kerir yang terletak di pesisir Mediterania, Mesir.

"Kami telah mengelola persediaan di luar negeri ini selama bertahun-tahun, namun kini kami berupaya untuk memperluasnya, terutama di kawasan Asia," kata Nasser.

Nasser menyatakan bahwa Aramco berencana untuk melipatgandakan kapasitas penyimpanannya di luar negeri, meskipun ia tidak memerinci jadwal perluasan tersebut maupun mengungkapkan kapasitas yang ada saat ini.

Upaya ini merupakan bagian dari langkah yang lebih luas untuk memperkuat infrastruktur serta opsi ekspor Arab Saudi di tengah krisis regional.

Saat ini, Aramco memiliki tiga jalur ekspor utama, yakni melalui Selat Hormuz, Laut Merah dan Bab el-Mandeb, serta melalui Sidi Kerir di Laut Mediterania.

Menurut Nasser, konflik yang terjadi mendorong perusahaan untuk memulai studi teknis guna meningkatkan kapasitas pengangkutan minyak mentah dari Teluk Persia di wilayah timur menuju Laut Merah di wilayah barat—dari 7 juta barel per hari menjadi 10 juta barel per hari—di samping pengembangan jalur-jalur lainnya.

"Kami tidak menunggu krisis berakhir," tegas Nasser. Membangun ketahanan memerlukan "investasi dan persiapan selama berpuluh-puluh tahun."

(bbn)

No more pages