Logo Bloomberg Technoz

Ibrahim juga meyakini jika rencana pemerintah mengetatkan moratorium smelter nikel yang memproduksi produk antara atau intermediate terlaksana, maka tren penguatan harga nikel bakal terus berlanjut.

Lebih lanjut, Ibrahim menduga rencana pemangkasan produksi yang ingin dilakukan sejumlah smelter tersebut berkaitan dengan penurunan permintaan baterai mobil listrik atau electric vehicle (EV) berbasis nikel, terutama di China.

“Jadi sebenarnya ini perusahaan-perusahaan China yang ada di sini itu kan sebenarnya salah satu perusahaan di sana [China] yang membuat baterai mobil listrik kan,” tegas Ibrahim.

Dalam jangka pendek, Ibrahim memandang harga logam nikel bakal menguji level US$16.350/mt, serta dapat mencapai US16.700/mt pada akhir tahun jika pemangkasan produksi benar-benar dilakukan.

“Jadi kan November—Desember ya, ada kemungkinan besar untuk mencapai ke level US$16.700/ton,” ujarnya.

Sebelumnya, para petinggi sejumlah produsen nikel China berencana untuk bertemu paling cepat Selasa (20/10/2026) guna membahas pengurangan produksi secara terkoordinasi di pabrik bahan baku baterai mereka di Indonesia.

Perusahaan-perusahaan tersebut—termasuk Tsingshan Holding Group Co, GEM Co, Lygend Resources & Technology Co, dan Zhejiang Huayou Cobalt Co—berencana untuk menetapkan skala pengurangan produksi yang diperlukan.

Rencana tersebut rencananya ditempuh sebab lemahnya harga logam telah menekan profitabilitas operasi HPAL mereka, pertemuan tersebut menyusul diskusi serupa pada Agustus yang tidak menghasilkan kesepakatan.

Menurut sumber Bloomberg News, perusahaan-perusahaan itu kemungkinan akan membahas pengurangan produksi berdasarkan tingkat operasional saat ini. 

Detail rencana tersebut masih bisa berubah dan belum ada jaminan bahwa pertemuan akan terlaksana atau kesepakatan akan tercapai.

Logam ini sempat melonjak hingga 2,7% hingga menembus angka US$16.000/mt di London Metal Exchange (LME), melanjutkan tren kenaikan sejak mencapai level terendah dalam sembilan bulan pada Kamis lalu.

Sementara itu, hari ini, harga logam nikel di LME telah tembus US$16.234/mt atau menguat 3,65% dari penutupan hari sebelumnya.

Outlook harga nikel pada semester II-2026./dok. BMI

Adapun, BMI, lengan riset dari Fitch Solutions Company, mempertahankan proyeksi rata-rata harga logam nikel sepanjang 2026 di level US$17.000/ mt, lantaran pasar nikel global yang masih mencatat surplus meski keseimbangan pasokan dan permintaan mulai mengetat.

Berdasarkan riset terbarunya, BMI meramal surplus pasar nikel diperkirakan menyusut menjadi 75.500 mt pada 2026, dari 284.000 mt pada 2025.    

Akan tetapi, BMI menilai kondisi pasar yang makin seimbang tersebut masih belum cukup untuk membawa nikel ke posisi defisit. 

Produksi nikel olahan global diproyeksikan turun 1% secara tahunan menjadi 3,84 juta mt pada 2026 akibat ketidakpastian kebijakan Indonesia dan mengetatnya ketersediaan bijih.

Sementara itu, konsumsi nikel global diperkirakan tumbuh 4,7% secara tahunan menjadi 3,77 juta ton pada 2026.

Pertumbuhan permintaan terutama ditopang oleh produksi baja nirkarat atau stainless steel yang masih menjadi penyangga utama konsumsi nikel.

Dari sisi persediaan, gabungan stok on-warrant di LME dan Shanghai Futures Exchange (SHFE) mencapai 349.000 mt per 30 September 2026, naik 24,6% sejak awal tahun.

Adapun, harga nikel rata-rata sepanjang tahun berjalan hingga 5 Oktober 2026 tercatat US17.480/mt, tetapi harga terus tertekan hingga ke level US$15.665/mt pada 5Oktober 2026 setelah menyentuh titik terendah tahun berjalan US$15.510/mt pada 2 Oktober 2026.

(azr/wdh)

No more pages