Ihwal mode survival yang dimaksud, Bahlil mengamini Presiden Prabowo Subianto menyatakan Indonesia harus berjuang di tengah berbagai dinamika global yang terjadi.
“Ya memang harus kita survival. Kita sebagai pejabat negara, Bapak Presiden sebagai Presiden, pasti apa yang disampaikan Bapak Presiden, semua kementerian mampu menjabarkan dalam konteks implementasi program untuk menuju pada survival,” katanya.
Pasokan LNG
Sebelumnya, Bahlil mengklaim pasokan gas alam cair atau liquified natural gas (LNG) untuk kebutuhan domestik dan ekspor dalam kondisi yang aman pada semester II-2026.
“Aman semuanya. Enggak ada yang dipotong untuk ekspor. Ekspor sudah oke semua, dalam negeri juga oke,” kata Bahlil usai peresmian Mini LNG Plant di Tuban, Jawa Timur, Kamis (25/6/2026).
Dalam kesempatan terpisah, Bahlil juga sempat berjanji kepada kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) di industri hulu migas bahwa dia tidak akan mengalihkan kuota ekspor gas pada tahun ini, sebagaimana yang sempat dilakukan pada 2025.
Bahlil menyatakan kuota ekspor gas tahun ini tidak bakal dialihkan oleh pemerintah untuk memenuhi kebutuhan gas domestik. Dia pun mengklaim sudah menyetujui seluruh kuota ekspor gas bumi tahun ini.
“Saya janji kepada Bapak Ibu semua, pada 2025 itu kejadian, pengalaman yang bahwa satu tahun pemerintahan Bapak Presiden Prabowo, tetapi 2026 tidak akan ada lagi pemotongan kuota ekspor untuk market ataupun yang sudah dikontrakan ke luar negeri,” kata Bahlil dalam IPA Convex 2026, Rabu (20/5/2026).
Bahlil mengungkapkan Kementerian ESDM bakal mencari cara agar pasokan gas domestik dapat terpenuhi tanpa kembali mengalihkan kuota ekspor gas.
“Jadi enggak perlu ada kekhawatiran lagi, semuanya sudah saya setuju untuk ekspornya semua. Jadi semuanya sudah saya tanda tangan, enggak ada lagi. Biarlah kebutuhan dalam negeri kita putar otak,” ujar dia.
Adapun, pada tahun ini, Kementerian ESDM menyatakan Indonesia telah mengamankan LNG untuk kebutuhan dalam negeri maupun ekspor hingga semester I-2026.
Sementara itu, untuk keandalan pasokan LNG untuk semester II-2026, Kementerian ESDM masih menghitung kebutuhan dalam negeri serta ekspor dan merancang mekanisme pemenuhannya.
Sebagai konteks, Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) memutuskan mengalihkan 27 british thermal unit per day (BBtud) kuota ekspor gas Medco untuk kebutuhan domestik pada Jumat (22/8/2025).
SKK Migas menjelaskan volume gas sebesar 27 BBtud gas tersebut berasal dari West Natuna Gas Supply Group yang akan dipasok ke PGN, serta pengalirannya dilakukan oleh Medco E&P Grissik Ltd. dan PetroChina International Jabung Ltd.
Adapun, perjanjian tersebut melibatkan sejumlah pihak, yakni; West Natuna Supply Group yakni Medco E&P Natuna Ltd., Premier Oil Natuna Sea B.V., Star Energy (Kakap) Ltd.; South Sumatra Sellers yakni Medco E&P Grissik Ltd., PetroChina International Jabung Ltd.; PT Pertamina (Persero), PGN, dan Sembcorp Gas Pte Ltd.
Untuk diketahui, BMI—lengan riset Fitch Solutions, bagian dari Fitch Group — memprediksi, sebagian besar pertumbuhan produksi LNG di Asia Pasifik akan bergantung pada upaya Indonesia revitalisasi lapangan gas eksisting dan melakukan eksplorasi lanjutan.
Dalam jangka menengah, peningkatan pasokan LNG regional diperkirakan masih akan didorong oleh tambahan ekspor dari Australia pada 2026 dan 2027.
Sementara itu, kontribusi tambahan dari Indonesia dan Malaysia diperkirakan masih relatif lebih kecil pada periode tersebut.
Namun, memasuki 2029, Indonesia diproyeksikan menyumbang sebagian besar pertumbuhan pasokan LNG regional. Hal ini terjadi di tengah risiko penundaan lanjutan proyek Papua LNG di Papua Nugini.
(azr/wdh)





























