Logo Bloomberg Technoz

"Jadi kalau itu diteliti ternyata nanti mereka melakukan politik dumping, ya kita akan usulkan supaya mereka dikenai tarif sesuai dengan yang mereka lakukan politik dumping-nya,” kata dia.

Di sisi lain, Sarmuji membuka peluang evaluasi terhadap besaran tarif antidumping produk keramik China. Dia menilai perhitungan tarif perlu kembali dicermati untuk memastikan kesesuaiannya dengan hasil verifikasi.

Kepastian Pasokan Gas

Selain persaingan produk impor, industri keramik nasional, kata Sarmuji, saat ini juga tengah menghadapi persoalan kepastian pasokan dan harga gas yang kompetitif. Hal ini dibutuhkan untuk menjaga keberlangsungan proses produksi.

Menurutnya, pemerintah perlu menjaga keseimbangan antara kebutuhan gas untuk industri dan kebutuhan lain. Namun, kepastian pasokan dan harga yang kompetitif tetap menjadi hal yang akan diperjuangkan Kemenperin.

"Kita akan memperjuangkan supaya, pertama, ada kepastian suplai gas supaya bisa memperkirakan proses produksinya; kedua, tentu harga harus kompetitif yang masih bisa diambil oleh industri untuk tetap bisa berjalan,” kata Sarmuji.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum ASAKI Edy Suyanto mengatakan, meski pemerintah lewat Kemneterian ESDM elah menetapkan alokasi gas bagi industri keramik sekitar 73% dari total kebutuhan, pelaku industri masih menghadapi gangguan suplai yang berdampak pada meningkatnya biaya produksi.

Kebutuhan tersebut, kata Edy, semestinya membawa rata-rata harga gas industri keramik penerima harga gas bumi tertentu (HGBT) direntang US$8-us$8,5 per MMBTU, yang dinilai masih kompetitif.

Namun, dia menggarisbawahi akibat gangguan pasokan dan pembatasan pemanfaatan gas sejak September hingga Oktober, harga rata-rata yang harusdibayar pada Oktober mencapai US$11 per MMBTU.

"Kondisi tersebut perlu segera mendapat perhatian karena berpotensi mengganggu daya saing industri keramik nasional. ASAKI berharap pemerintah memperkuat pengawasan implementasi kebijakan alokasi gas agar pasokan yang telah ditetapkan dapat terealisasi secara konsisten," kata Edy.

Secara keseluruhan, kapasitas terpasang industri keramik nasional pada 2026 telah mencapai sekitar 686 juta meter persegi. 

Dengan dukungan pasokan gas yang lancar dan perlindungan pasar domestik yang konsisten, tingkat utilisasi diproyeksikan meningkat dari 73% pada 2025 menjadi 75% pada 2026, atau setara dengan produksi sekitar 510 juta meter persegi.

(ain)

No more pages