Namun, jika melihat situasi pasar sekarang, semua skema penambahan modal yang berujung pada bertambahnya free float dikhawatirkan menjadu tidak optimal. Oleh karena itu, privatisasi (go private) atau delisting adalah langkah yang paling logis untuk saat ini.
CIMB Group juga mempertimbangkan sejumlah skema delisting yang memungkinkan pemegang saham minoritas tetap memiliki sebagian kecil kepemilikan setelah saham perseroan keluar dari bursa. Skema serupa pernah diterapkan pada unit perbankan CIMB di Thailand dan Malaysia.
Meski demikian, rencana delisting CIMB Niaga masih dalam tahap penjajakan dan belum menjadi keputusan final.
Dalam laporan terpisah, MBSB Investment Bank Bhd mengatakan CIMB Group memiliki sekitar 92,5% saham CIMB Niaga. Dengan asumsi harga saham BNGA sebesar Rp1.550/saham, kebutuhan dana untuk mengambil alih saham yang dimiliki pemegang saham minoritas diperkirakan mencapai Rp2,95 triliun.
Apabila CIMB Group menawarkan premi sebesar 30% dari harga tersebut, nilai transaksi diperkirakan meningkat menjadi Rp3,84 triliun.
Di sisi lain, CIMB Group juga mempertimbangkan dampak langkah strategis tersebut terhadap distribusi dividen CIMB Niaga kepada induk usaha. Kemampuan anak usaha untuk meneruskan dividen kepada grup tetap menjadi salah satu pertimbangan utama dalam mengevaluasi opsi yang tersedia.
CIMB Investment Bank turut menyebut rasio modal inti terhadap aset tertimbang menurut risiko atau Common Equity Tier 1 (CET1) CIMB Niaga sebesar 23%. Kondisi tersebut dinilai memberikan ruang bagi optimalisasi modal, meskipun belum ada target formal yang ditetapkan.
(dhf)




























