Marcos Alvarez, kepala global bidang asuransi di Morningstar DBRS, memperkirakan total kerugian akibat kerusuhan tersebut terus meningkat. Namun, dalam catatan yang diterbitkan pada Senin, ia memperkirakan nilainya untuk sementara masih akan berada di bawah 1 miliar euro (US$1,1 miliar) hingga 1,2 miliar euro.
“Dengan asumsi tidak ada kekerasan lebih lanjut, kami memperkirakan kerusuhan terbaru di Prancis akan menjadi peristiwa yang masih dapat ditangani dari sisi pendapatan, bukan peristiwa yang mengancam permodalan, bagi perusahaan-perusahaan asuransi besar di negara itu,” tambahnya.
Obligasi dan saham Prancis melemah pada Senin, menyeret pasar Eropa ke zona merah. Sejumlah akun media sosial di X yang terkait dengan gerakan Rompi Kuning menyerukan agar aksi berlanjut sepanjang pekan dan kembali menggelar kerusuhan pada Sabtu. Gelombang protes diperkirakan akan berlangsung lebih lama dari itu. Sejumlah serikat pekerja telah menyerukan pemogokan pada 5 November.
Para peritel di Paris mendesak pihak berwenang melakukan segala upaya untuk mencegah terulangnya aksi perusakan dan penjarahan. “Tidak wajar jika pelaku usaha harus menggunakan jasa personel keamanan swasta untuk menjamin keselamatan tempat usaha mereka, seperti yang terjadi pada akhir pekan ini,” tulis perwakilan para peritel yang beroperasi di sejumlah kawasan perbelanjaan kelas atas di ibu kota Prancis tersebut.
“Kami menegaskan bahwa Paris dan kawasan-kawasan di dalamnya mencerminkan citra Prancis. Peristiwa-peristiwa ini merusak reputasi negara kami,” tulis organisasi yang mewakili toko-toko mewah di kawasan Champs-Élysées dan Faubourg Saint-Honoré, serta sejumlah kawasan lainnya.
Menteri Keuangan Prancis Roland Lescure akan bertemu dengan federasi pelaku usaha, serta perwakilan bank dan perusahaan asuransi, pada Selasa. Ia mengatakan akan mengumumkan langkah-langkah dukungan bagi perusahaan yang terdampak langsung.
Ketegangan Politik
Prancis bukan satu-satunya negara yang mengalami kerusuhan setelah aksi protes pada akhir pekan. Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni memimpin rapat darurat bersama para penasihatnya pada Senin setelah demonstrasi di Milan berakhir dengan kerusuhan dan penjarahan. Aksi protes juga berlangsung di Belgia, Portugal, dan Albania.
Dampak kerusuhan pada akhir pekan semakin memperburuk situasi politik Prancis yang sebelumnya sudah terpecah. Pemimpin partai sayap kanan jauh National Rally, Jordan Bardella, menyalahkan partai sayap kiri jauh France Unbowed atas bentrokan yang terjadi pada Senin. Ia menuduh pemimpin partai tersebut, Jean-Luc Mélenchon, “mengubah polisi menjadi musuh yang harus disingkirkan dan aparat penegak hukum menjadi ketidakadilan yang harus diperangi”.
Kandidat sayap kanan jauh Marine Le Pen diperkirakan akan memimpin putaran pertama pemilihan presiden dengan perolehan setidaknya 31% suara, menurut jajak pendapat Cluster 17 yang diterbitkan pada Senin dan dilakukan sebelum kerusuhan terjadi. Mélenchon dan kandidat kanan-tengah Edouard Philippe berada di posisi kedua dengan perolehan suara yang sama, yakni 20%.
Setelah menyampaikan pidato melalui televisi pada Minggu malam, Macron menghindari wartawan saat tiba di Uni Emirat Arab pada Senin. Negara itu menjadi pemberhentian pertama dalam kunjungan tiga hari Macron ke sejumlah negara Teluk. Menurut Istana Élysée, kunjungan tersebut bertujuan memperkuat hubungan bisnis dan mengamankan pasokan energi.
(bbn)





























