Terbaru, Goldman Sachs menyebut penghapusan Indonesia dari Indeks–indeks MSCI memicu capital outflow mencapai lebih dari US$5,6 miliar atau Rp100,8 triliun. Jumlah tersebut setara dengan volume perdagangan harian rata-rata selama 18 hari untuk saham-saham konstituen MSCI Indonesia Investable Market Index.
Tambahan arus dana sebesar US$2,7 miliar juga berisiko keluar jika FTSE mengambil langkah serupa, menurut analis, termasuk Alvin So dan Timothy Moe, dalam sebuah catatan riset.
Terlebih lagi Goldman Sachs menyematkan rating underweight terhadap Indonesia karena tekanan berkepanjangan akibat ketidakpastian status Indeks, lemahnya laba perusahaan, serta hambatan makroekonomi kemungkinan akan membatasi pemulihan valuasi secara berkelanjutan, jelas riset tersebut
“Dalam sejumlah kasus penurunan klasifikasi negara berkembang oleh MSCI baru-baru ini, kinerja pasar saham negara terkait cenderung tertinggal dari tolok ukur yang lebih luas selama dua hingga tiga bulan setelah pengumuman konsultasi awal, sebelum stabil nantinya," lanjut Goldman Sachs.
Mirae Asset Sekuritas Indonesia dalam riset terbaru pagi ini menyebut, masih terdapat turbulensi yang akan dihadapi ke depan tergantung perkembangan sentimen. Berdasarkan indikator yang ada, baik sinyal Stochastics K_D maupun RSI menunjukkan indikasi negatif, sementara volume mengalami penurunan.
Perlu dicermati dari keseimbangan antara peluang technical rebound setelah tekanan jual besar dan risiko berlanjutnya aksi jual akibat persoalan kepercayaan investor terhadap pasar modal Indonesia. Tindak lanjut reformasi pasar modal, transparansi kepemilikan saham, arus dana asing, dan perkembangan evaluasi MSCI, berpotensi lebih menentukan arah nantinya.
Adapun rencana BEI untuk mengeluarkan saham-saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau High Shareholding Concentration (HSC) dari perhitungan IHSG merupakan langkah yang positif dari sisi peningkatan transparansi, kredibilitas, dan kualitas pembentukan indeks pasar modal Indonesia.
“Namun, dalam jangka pendek, penyesuaian metodologi tersebut berpotensi menimbulkan volatilitas dan perubahan persepsi investor, terutama apabila pasar menilai kebijakan ini sebagai bagian dari upaya pembenahan tata kelola pasar modal setelah munculnya evaluasi MSCI,” mengutip riset Mirae Asset Sekuritas.
Mengutip Phintraco Sekuritas memaparkan, langkah BEI untuk meningkatkan transparansi dan integritas pasar melalui penyesuaian saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi (HSC) serta keterbukaan informasi afiliasi pemegang saham diharapkan dapat mendukung pemenuhan standar MSCI, biarpun hal tersebut bukan jaminan MSCI akan merespon positif langkah tersebut.
“Dalam pelaksanaannya IHSG berpotensi mengalami penyesuaian dalam jangka pendek, mengingat beberapa saham HSC memiliki bobot yang cukup besar. Proses penyesuaian ini dapat meningkatkan volatilitas pasar, namun diharapkan mendukung pembentukan indeks yang lebih mencerminkan kondisi pasar dan likuiditas saham secara representatif,” jelas Phintraco.
Secara teknikal, tekanan pada IHSG masih berpotensi berlanjut dengan support 4.800–4.900, terutama jika tekanan jual pada saham-saham berkapitalisasi besar masih terjadi. Sebaliknya jika saham-saham dengan kapitalisasi besar mulai rebound, maka IHSG berpotensi untuk menguat di atas level 5.000 pada perdagangan Selasa (20/10/2026).
(fad)


























