Untuk menangkap peluang investasi regional melengkapi hub Singapura dan Malaysia, pemerintah mengandalkan Batam, Karimun, dan Bintan.
Kawasan ini dinilai ideal karena ketersediaan air yang memadai, kepadatan penduduk yang relatif rendah, serta potensi pasokan energi baru terbarukan (EBT).
Guna mendukung keandalan pasokan energi bersih di hub baru tersebut, pemerintah menyiapkan rencana pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) hingga 100 gigawatt-peak (GWp).
Menurut Bahlil, langkah ini mulai membuahkan hasil di Batam. Saat ini, total kapasitas pusat data yang beroperasi, berkomitmen, dan dalam tahap pengembangan di Batam telah mencapai 1,47 GW.
“Dan juga PLN Batam dan DayOne telah menandatangani kontrak pasokan listrik sebesar 450 MW—kontrak listrik data center terbesar di Indonesia,” tambahnya.
Secara nasional, Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025—2034 juga mengarahkan tambahan kapasitas 69,5 GW dengan potensi investasi Rp2.967,4 triliun.
Perinciannya mencakup 42,6 GW dari pembangkit EBT, 10,3 GW dari sistem penyimpanan energi atau battery energy storage system (BESS), serta 16,6 GW dari pembangkit fosil.
Guna mengoptimalkan dampak ekonomi kawasan, Bahlil menegaskan bahwa calon investor wajib menggandeng pengusaha daerah.
"Kita harus sharing dengan pengusaha lokal. Jangan sampai semuanya dikerjakan sendiri," tegas Bahlil.
Sebelumnya, Executive Director Information and Communication Technology (ICT) Institute Heru Sutadi mengingatkan dampak signifikan dari konsumsi energi data center skala besar terhadap beban pasokan listrik nasional.
Dia menjelaskan data center berkapasitas 10 MW membutuhkan daya listrik harian sebesar 240 megawatt-hour (MWh) untuk beroperasi selama 24 jam penuh.
Sementara itu, hyperscale data center berkapasitas 100 MW menyedot energi listrik hingga 2.400 MWh atau setara dengan 2,4 gigawatt-hour (GWh) setiap harinya.
"Untuk hyperscale data center skala 100 MW berarti kebutuhan listriknya sekitar 100 MW dan kalau beroperasi 24 jam sekitar 2400 MWh atau 2,4 GWh per hari," terang Heru kepada Bloomberg Technoz.
Sebagai gambaran, Heru memberikan perbandingan penggunaan listrik dari beberapa pembangkit EBT, contohnya pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) untuk memenuhi beban konstan (base load) pusat data sebesar 100 MW tersebut dinilai membutuhkan kapasitas terpasang yang jauh melampaui beban nominalnya.
Mengingat waktu produksi efektif sinar matahari rata-rata hanya berlangsung selama 4 hingga 5 jam per hari, penyediaan energi harian sebesar 2,4 GWh memerlukan instalasi PLTS berkapasitas 500 hingga 600 megawatt-peak (MWp) yang menempati lahan seluas 500 hingga 600 hektare.
Selain kebutuhan lahan yang luas, sifat intermiten dari panel surya menuntut keberadaan BESS berkapasitas minimal 1.900 hingga 2.000 MWh.
"Sistem BESS tersebut diperlukan untuk menjaga kelangsungan operasi data center secara penuh selama 19 hingga 20 jam pada malam hari maupun saat kondisi cuaca mendung," ungkapnya.
(smr/wdh)






























