Aksi protes di Prancis diikuti lebih dari 500.000 orang pada Sabtu. Namun, demonstrasi yang awalnya berlangsung damai untuk menyuarakan buruknya kondisi ruang kelas dan rumah sakit, serta kekhawatiran mengenai biaya hidup, segera berubah menjadi kerusuhan. Menurut data terbaru Kementerian Dalam Negeri yang dirilis pada Minggu malam, sebanyak 2.397 orang ditangkap pada Sabtu.
Kerusakan terjadi di sejumlah kota, dengan sekitar 1.000 personel polisi dan petugas pemadam kebakaran dilaporkan terluka. Balai Kota Limoges yang bersejarah di Prancis tengah dibakar hingga menghanguskan bangunan berusia 143 tahun tersebut. Sementara itu, kantor pariwisata di Lyon juga dibakar.
Bentrokan antara demonstran dan polisi kembali terjadi di Paris pada Minggu malam, terutama di sekitar Place de la République dan jalan-jalan di sekitarnya. Sehari sebelumnya, bagian dasar monumen Marianne di kawasan tersebut dipenuhi coretan grafiti. Sejumlah aksi kekerasan juga terjadi di sekitar lokasi pada Sabtu. Sebuah restoran dibobol dan dibakar, sementara pemilik toko tembakau mengatakan kepada BFM TV bahwa para penjarah masuk beramai-ramai sambil membawa kantong plastik untuk mengangkut rokok.
Bentrokan tersebut terjadi pada saat yang krusial bagi Prancis, menjelang pemilihan presiden pada April ketika masa jabatan Macron mendekati akhir. Ketidakpuasan masyarakat telah meningkat akibat tingginya biaya hidup dan kekecewaan pelajar terhadap sistem pendidikan.
Tuntutan penambahan anggaran berseberangan dengan kebutuhan mendesak perekonomian untuk mengendalikan beban utang yang terus membengkak dan semakin mahal. Kekhawatiran terhadap kondisi keuangan negara diperkirakan akan berlanjut hingga pemilihan presiden. Investor masih diliputi kecemasan mengenai kebijakan yang ditawarkan para kandidat unggulan, sementara belum terlihat jalan keluar yang jelas dari krisis tersebut.
Macron mengatakan banyak peserta aksi menyuarakan kekhawatiran mengenai biaya hidup, khususnya harga bahan bakar di SPBU. Menurutnya, persoalan tersebut menjadi salah satu akar kerusuhan di sejumlah kota Eropa. Ia menambahkan bahwa dirinya akan berupaya “mengamankan pasokan kami” saat mengunjungi sejumlah negara Teluk mulai Senin.
Dampak Kerusuhan
Dampak kerusuhan selama akhir pekan memicu saling tuding di antara partai-partai politik dan semakin memperuncing perpecahan yang sudah terjadi di Prancis.
Marine Le Pen, pemimpin sayap kanan jauh yang unggul dalam jajak pendapat menjelang pemilihan presiden, secara langsung menyalahkan tokoh sayap kiri radikal Jean-Luc Mélenchon dan partainya, France Unbowed, yang dikenal dengan singkatan bahasa Prancis LFI, karena dianggap mengobarkan kekerasan.
“Negara kita terjebak dalam situasi yang mencekik, bahkan disandera, di antara kekerasan dan ketidakberdayaan,” kata Le Pen dalam pidato yang diunggah di X pada Minggu. Ia menyalahkan kelompok-kelompok yang menurutnya menyepelekan kekerasan serta menjadikan polisi dan lembaga negara sebagai sasaran. “Gerakan ini, dengan sayap politiknya, LFI, dan sayap bersenjatanya, kelompok-kelompok antifa, secara absurd menyamakan situasi ini dengan revolusi berdarah di Amerika Selatan atau, lebih buruk lagi, konflik di Timur Tengah.”
Perseteruan antara Mélenchon dan Perdana Menteri Sébastien Lecornu juga mencuat di X ketika aksi protes semakin tak terkendali, disertai penjarahan di kota-kota besar seperti Paris dan Bordeaux.
Mélenchon menyalahkan provokasi polisi atas sebagian kerusuhan. Dalam unggahan di X, ia menulis bahwa “mereka yang memperjuangkan hal yang sama dengan kami tidak boleh terlibat dalam penjarahan atau vandalisme.”
Edouard Philippe, mantan perdana menteri pada masa pemerintahan Macron sekaligus kandidat presiden, mengatakan masyarakat Prancis harus dapat mengandalkan negara untuk melindungi hak milik pribadi.
“Yang dipertaruhkan di sini adalah demokrasi itu sendiri,” katanya kepada stasiun televisi BFM TV pada Minggu.
Wali kota Paris, Marseille, dan Lyon telah meminta pertemuan dengan perdana menteri. Wali Kota Marseille Benoit Payan menyoroti ketidakmemadaian rencana pemerintah dalam menjaga keamanan dan ketertiban pada Sabtu.
Alexandre Bompard, CEO jaringan supermarket Carrefour SA yang juga memimpin federasi perdagangan dan distribusi Prancis, memperkirakan biaya perbaikan kerusakan akibat kerusuhan akan mencapai “ratusan juta euro”. Dalam wawancara dengan LCI TV pada Minggu, ia mengatakan sekitar 1.500 pemilik toko terdampak, termasuk sekitar 20 gerai supermarket milik perusahaannya yang dijarah.
Kebakaran di Balai Kota Limoges turut mendapat tanggapan dari Wakil Presiden AS JD Vance, yang mengaitkan peristiwa tersebut dengan imigrasi dan kurangnya integrasi pendatang. “Saya berdoa agar Prancis, negara yang indah dengan masyarakat yang luar biasa, menghentikan kegilaan ini sebelum lebih banyak bangunan ikoniknya terbakar,” tulisnya di X.
Presiden AS Donald Trump juga menyalahkan imigrasi dalam unggahan di platform Truth Social miliknya, meski tidak menyertakan bukti untuk mendukung tuduhan tersebut.
Italia
Gelombang protes selama akhir pekan tidak hanya terjadi di Prancis.
Ribuan orang turun ke jalan di Milan, Turin, dan Bologna, tempat bentrokan terjadi. Sementara itu, demonstrasi terpisah yang digelar serikat pekerja berlangsung di Roma untuk memprotes upah dan biaya hidup. Di Italia selatan, para sopir truk dan petani juga menggelar aksi terkait tingginya harga bahan bakar dan biaya lainnya.
Di Milan, sekitar 5.000 orang mengikuti demonstrasi. Sekelompok perusuh yang sebagian besar merupakan anak muda dan mengenakan penutup wajah bentrok dengan polisi di sekitar Piazza del Duomo, alun-alun utama di pusat ibu kota keuangan Italia tersebut. Mereka melemparkan batu jalanan dan petasan serta menjarah sejumlah toko.
“Saya sudah menyaksikan banyak demonstrasi, ada yang lebih keras daripada yang lain, tetapi saya belum pernah melihat kejadian seperti ini,” kata Carlo Varesi, 65 tahun, pemilik bar di dekat lokasi yang telah lama beroperasi.
Kerusuhan di Milan semakin parah pada Minggu setelah dimulai pada sore hari. Bentrokan dengan polisi berlanjut, sementara sejumlah kelompok anak muda menjarah toko-toko di pusat kota.
Perdana Menteri Giorgia Meloni mengadakan rapat darurat pada Senin, menurut media Italia. “Berdemonstrasi adalah hak; membakar kota-kota kita bukanlah hak,” katanya pada Sabtu.
Belgia
Protes juga berlangsung di Belgia pada Sabtu, sebagai bagian dari rangkaian demonstrasi yang terjadi di negara tersebut dalam beberapa pekan terakhir. Sekitar 150 orang ditangkap, menurut laporan surat kabar Le Soir.
Serikat pekerja telah menggelar aksi mogok untuk menentang sejumlah langkah yang tengah dibahas pemerintah Belgia. Pemerintahan tersebut kesulitan mendapatkan persetujuan atas rencana anggarannya dari koalisi lima partai pada bulan ini. Sementara itu, demonstrasi pelajar berlangsung di Brussel dan kota Liege di wilayah selatan untuk memprotes pemangkasan anggaran pendidikan.
Di Portugal, ratusan tenda didirikan di Lapangan Rossio, Lisbon, dan Praça de D. João I, Porto, pada Minggu. Para demonstran mengatakan akan melanjutkan aksi mereka tanpa batas waktu. Tidak ada laporan intervensi polisi sepanjang malam, menurut lembaga penyiaran publik RTP.
Demonstrasi tersebut menyusul operasi polisi untuk membubarkan kamp protes terkait perumahan di Porto pada awal pekan. Menurut penyelenggara, operasi itu menyebabkan sekitar 40 orang terluka. Aksi protes kemudian berkembang menjadi gerakan nasional yang menuntut penanganan masalah sewa rumah yang tidak terjangkau, upah rendah, serta kenaikan harga pangan dan bahan bakar.
Sejumlah tuntutan demonstran mendapat dukungan dari Gubernur Bank Portugal Álvaro Santos Pereira. Pada 7 Oktober, ia mengatakan bahwa negara tersebut belum merespons krisis perumahan dengan tingkat urgensi yang memadai.
(bbn)


























