Logo Bloomberg Technoz

Penyebab IHSG Ditutup Melemah di 5.185

Muhammad Julian Fadli
16 October 2026 18:00

Karyawan di depan layar pergerakan harga saham (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (14/8/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Karyawan di depan layar pergerakan harga saham (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (14/8/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 11,57% di posisi 5.185,1 pada perdagangan Jumat (16/10/2026), amblasnya saham–saham big caps jadi sebab, terutama saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) hingga saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN).

Sepanjang hari IHSG terus–menerus terjerembab di tren pelemahan dengan penurunan yang bertambah dalam hingga sempat mengalami Trading Halt. Adapun rentang perdagangan terjadi pada area level 5.404,5 sampai dengan terendah 5.185,1.

IHSG Penutupan Sesi II pada Jumat 16 Oktober 2026 (Bloomberg)

Adapun tren bearish IHSG disebabkan oleh kabar terbaru dari MSCI yang memulai konsultasi atas usulan penurunan status pasar modal Indonesia dari kategori pasar Emerging Market menjadi Standalone Market. Kekhawatiran signifikan pasar mengenai investability pasar saham Indonesia karena struktur kepemilikan yang dinilai masih kurang transparan serta dugaan aktivitas perdagangan yang terkoordinasi, melansir Phintraco Sekuritas.


Pelemahan IHSG juga tersengat sentimen tekanan foreign outflow, investor asing yang gencar melangsungkan aksi jual (net sell) pada pasar saham Indonesia sampai dengan bulan Oktober 2026 sudah mencapai Rp110 triliun lebih secara year–to–date/ytd, ini merupakan keluarnya dana asing terbesar sejak 1998, melampaui sejumlah krisis yang pernah terjadi di Indonesia.

Terlebih lagi, jika benar terealisasi hingga tanda–tanda menjadi Standalone Market, Indonesia akan keluar dari Indeks MSCI Emerging Market, dengan potensi dana asing pasif keluar mencapai US$3 miliar, analisis Mirae Asset Sekuritas.