Investor juga tengah mencermati dan bersikap wait–and–see terhadap sentimen negatif manipulasi harga saham yang telah berlangsung di Bursa Efek Indonesia (BEI), otoritas menemukan fakta adanya tindakan untuk menyesatkan dalam pemesanan saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) di mana terdapat pihak-pihak terkait hingga pengendali perusahaan.
Data Bursa Efek Indonesia (BEI) memperhitungkan nilai perdagangan mencapai Rp32,01 triliun dari sejumlah 68,61 miliar saham yang ditransaksikan, dengan frekuensi yang terjadi 2,13 juta kali jual–beli.
Tercatat hanya ada penguatan 10 saham, dan sebanyak–banyaknya 775 saham terjadi pelemahan. Sisanya 10 saham stagnan.
Saham–saham big caps menjadi pemberat IHSG pada perdagangan hari ini, pelemahan saham BBCA, hingga saham BREN. Diperberat lagi oleh saham–saham barang baku, saham kesehatan, dan saham infrastruktur melemah paling dalam, dengan masing–masing minus 13,3%, 13,1% dan juga 13%.
Saham big caps menjadi pemberat IHSG hingga menempati top losers:
- PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) membebani 82,44 poin
- PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) membebani 68,14 poin
- PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) membebani 47,3 poin
- PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) membebani 30,57 poin
- PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) membebani 24,89 poin
- PT Astra International Tbk (ASII) membebani 24,06 poin
- PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) membebani 14,55 poin
- PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) membebani 13,74 poin
- PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) membebani 12,69 poin
- PT Barito Pacific Tbk (BRPT) membebani 12,32 poin
Sejumlah saham unggulan LQ45 lainnya juga menjadi pendorong pelemahan IHSG ialah, saham PT Pertamina Gas Negara Tbk (PGAS) yang turun 15%, saham PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) ambles 15%, dan juga saham PT ESSA Industries Indonesia Tbk (ESSA) melemah 15%.
Senada, saham PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) drop 14,9%, saham PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) melemah 14,9%. Saham PT Indika Energy Tbk (INDY) terpeleset 14,8% hingga menjadi pemberat IHSG.
Ambrolnya IHSG hari ini tergencet usulan MSCI terhadap penurunan status pasar modal Indonesia, dari kategori pasar Emerging Market menjadi Standalone Market.
Keputusan final mengenai usulan tersebut akan diumumkan paling lambat 30 Juni 2027.
“Kendatipun perpindahan kelas ini belum pasti, investor telah mengantisipasinya sehingga terjadi tekanan jual dari awal perdagangan dan sempat terjadi Trading Halt ketika pasar dibuka dengan pelemahan IHSG sebesar 8%,” terang Phintraco, sehingga diprediksi IHSG masih berpotensi menguji level psikologis di 5.000 pada perdagangan selanjutnya, jika break (lagi) support berikutnya di level 4.700–4.800.
Senada dengan analisis Panin Sekuritas yang menuturkan, penurunan signifikan IHSG terjadi seiring dengan announcement MSCI sedang mempertimbangkan untuk menurunkan Indonesia menjadi Standalone Market, dua tingkat di bawah Emerging Market saat ini, karena membutuhkan bukti perbaikan dan penerapan kebijakan, dibandingkan hanya sekedar regulasi.
“Spill–over kekhawatiran MSCI Indonesia yang berpotensi di downgrade ke Standalone Market,” papar Panin menyoal penyebab IHSG melemah hari ini.
MSCI menilai penurunan status menjadi Frontier Market belum cukup mencerminkan kedalaman persoalan tersebut. Konsultasi ditutup pada 30 April 2027, dengan keputusan final paling lambat 30 Juni 2027.
Sebagai catatan, Indonesia tetap berstatus Emerging Market selama menunggu hasilnya, tetapi MSCI berencana melanjutkan reklasifikasi kecuali terdapat bukti nyata perbaikan material yang mendukung peninjauan ulang.
Terlebih lagi, pembatasan yang berlaku tetap dipertahankan (freeze) berlanjut, termasuk pembekuan penambahan konstituen indeks, kenaikan faktor inklusi asing dan jumlah saham beredar, serta perpindahan ke segmen indeks berkapitalisasi lebih besar. Penghapusan saham berdasarkan kerangka Konsentrasi Kepemilikan Saham Tinggi Indonesia juga akan berlanjut.
RHB Sekuritas menyebut, perkembangan ini sebagai peningkatan signifikan risiko aksesibilitas pasar Indonesia. Klasifikasi Standalone akan menempatkan Indonesia di luar cakupan Emerging Market maupun Frontier Market MSCI, sehingga berpotensi memicu penjualan oleh dana yang mengikuti indeks terkait, tanpa diimbangi masuknya Indonesia ke Indeks Frontier.
“Investor aktif juga dapat mengurangi eksposur sebelum implementasi, menekan IHSG dan rupiah. Waktu dan besarnya arus keluar masih belum pasti, bergantung pada keputusan final, mekanisme implementasi, dan mandat masing-masing dana,” terang RHB, dalam catatan terbarunya pada Jumat (16/10/2026).
(fad)




























