Dia menyebut pendapatan emiten konsumer diproyeksikan tumbuh sekitar 5,9%. Menurut dia, prospek tersebut dapat menjadi salah satu indikator yang perlu diperhatikan investor dalam menilai kondisi konsumsi domestik dan kinerja perusahaan di sektor tersebut.
"Nah kalau kita sudah bisa melakukan hitungan sendiri, Insya Allah kita tidak akan gampang panik ketika ada pengumuman-pengumuman seperti ini. Jadi apa yang terjadi sekarang ini adalah karena investor domestik terlalu gampang panik, karena mungkin belum pede untuk berhitung sendiri," tegasnya.
Meski demikian, Dradjad menegaskan bahwa imbauannya bukan berarti pemerintah menganggap penilaian MSCI tidak adil atau tidak relevan.
Dia menyebut sejumlah masukan MSCI memang berkaitan dengan aspek tata kelola pasar modal yang perlu diperbaiki pemerintah.
Sebelumnya, MSCI memulai konsultasi atas proposal untuk mengubah klasifikasi indeks saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market, menurut pernyataan penyedia indeks tersebut pada Kamis.
Konsultasi ini dilakukan setelah MSCI memperingatkan bahwa sejumlah pelaku pasar menyampaikan kekhawatiran terhadap pasar saham Indonesia, termasuk kurangnya transparansi struktur kepemilikan saham dan dugaan perilaku perdagangan yang terkoordinasi.
Hingga saat ini, para pelaku pasar tersebut belum melihat kemajuan yang konsisten dan memadai di pasar saham Indonesia, menurut pernyataan MSCI pada Kamis. Keputusan final diperkirakan akan diumumkan paling lambat pada 30 Juni 2027, menurut penyedia indeks tersebut.
“Meski reformasi telah diumumkan, kekhawatiran signifikan masih ada terkait disfungsi pasar, termasuk dugaan perilaku perdagangan terkoordinasi yang terus berlanjut dan tidak adanya bukti penegakan aturan yang berarti.”
Sebagai catatan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup Sesi I di zona merah, turun 10,76% di posisi 5.233 pada Jumat (16/10/2026) menyusul ancaman MSCI yang tengah mempertimbangkan untuk menurunkan pasar saham Indonesia menjadi Standalone Market, dua tingkat lebih rendah dari Emerging Market saat ini membebani pasar.
Indeks LQ45 juga ikut melemah, dengan tertekan 12% di level 519,26. Sementara nilai tukar rupiah terdepresiasi 0,72% menuju posisi Rp18.035/US$ pada perdagangan siang hari ini di pasar spot, melansir Bloomberg.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), nilai transaksi perdagangan saham menunjukkan sepanjang hari ini mencapai Rp17,33 triliun dari sejumlah 38,69 miliar saham ditransaksikan, dengan frekuensi yang terjadi sebanyak 1,35 juta kali diperjualbelikan.
(prc/ell)

























