Logo Bloomberg Technoz

Fundamental Ekonomi RI Solid di Tengah Risiko Jadi Standalone

Redaksi
16 October 2026 12:44

Karyawan di depan layar pergerakan harga saham (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (16/10/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Karyawan di depan layar pergerakan harga saham (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (16/10/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Guncangan pasar keuangan Indonesia hari ini, Jumat (16/10/2026), sepertinya bisa jadi pengingat. Kepercayaan investor rupanya bisa berubah dengan begitu cepat, ketika ketidakpastian global bertemu dengan persoalan domestik.

Hari ini, tekanan di pasar keuangan Tanah Air meluas usai pernyataan MSCI yang mempetimbangkan penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia menjadi Standalone Market. Investor pun dengan cepat memasang mode risk-off, lantaran kehati-hatian mereka meningkat.

Rupiah tembus ke Rp18.000/US$ lagi, baik di pasar spot maupun di pasar luar negeri. Surat utang banyak dilepas dan yield menanjak di semua tenor dengan yield tenor 10 tahun berada di 7,35%. Bahkan, di pasar saham yang menjadi titik 'guncangan' itu sendiri mengalami trading halt berkali-kali dan sempat anjlok hingga 11%. 


Ini menunjukkan bahwa risiko persepsi telah menjadi salah satu tantangan besar bagi stabilitas pasar keuangan domestik.

Akan tetapi, di tengah tekanan itu, sebenarnya Indonesia masih punya beberapa indikator fundamental yang bisa jadi penyangga ekonominya.