Logo Bloomberg Technoz

"Kita tahu bahwa untuk LPG, kita konsumsi 8,5 juta ton per tahun, kalau ditambah industri kita yang ada di Cilegon, Lotte, itu butuh sekitar 11—12 juta ton," tutur Bahlil.

Untuk diketahui, Kementerian ESDM menetapkan rata-rata ICP September 2026 di level US$112,81/barel.

Angka ini mencatatkan kenaikan tajam sebesar US$23,38 jika dibandingkan dengan harga pada Agustus 2026 yang masih bertengger di posisi US$89,43/barel.

Keputusan resmi tersebut tertuang dalam Keputusan Menteri ESDM Nomor 395.K/MG.03/MEM.M/2026 mengenai Harga Minyak Mentah Indonesia bulan September 2026.

Adapun, Dirjen Migas Kementerian ESDM Laode Sulaeman memproyeksikan konsumsi LPG 3 kg secara nasional mencapai 8,67 juta metrik ton pada 2026.

Proyeksi 8,67 juta metrik ton ini melebihi kuota yang ditetapkan pemerintah sebesar 8 juta metrik ton, dengan tingkat penyerapan mencapai 108,46% dari kuota dalam APBN 2026. 

“Memang kalau kita perhatikan bahwa pada 2025 juga sudah ada penyesuaian untuk prognosis [serapan LPG] dan untuk 2026 ini memang prognosisnya itu sebanyak 8,67 juta ton LPG," tutur Laode dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi XII DPR RI, Rabu (26/8/2026).

Di sisi lain, berdasarkan data Ditjen Migas Kementerian ESDM, penyaluran LPG 3 kg telah menyentuh 5,04 juta metrik ton hingga Juli 2026 atau sekitar 63,06% dari total kuota sepanjang tahun ini.

Menurut Laode, lonjakan konsumsi ini terjadi karena sistem distribusi LPG bersubsidi masih bersifat terbuka sehingga dapat dibeli secara bebas oleh semua kalangan masyarakat.

Sekadar catatan, total anggaran subsidi energi dalam RAPBN 2027 dipagu Rp272,9 triliun, naik sekitar 20,1% dibandingkan dengan outlook APBN 2026 yang dipatok Rp227,3 triliun.

Untuk anggaran subsidi LPG 3 Kg dicanangkan senilai Rp114,1 triliun, naik 26,22% dari outlook APBN 2026 senilai Rp90,4 triliun.

Sementara itu, volume kuota subsidi LPG 3 Kg dalam RAPBN 2027 direncanakan 8,94 juta ton, naik 11,75% dari outlook APBN 2026 sebanyak 8 juta ton.

(azr/wdh)

No more pages