Logo Bloomberg Technoz

Perseroan berencana meminta persetujuan pemegang saham melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 23 November 2026.

Pemegang saham yang berhak menghadiri rapat tersebut adalah mereka yang tercatat dalam daftar pemegang saham pada 29 Oktober 2026.

Jika memperoleh persetujuan pemegang saham dan izin pencatatan saham dari BEI, perdagangan saham PRDA dengan nilai nominal lama di pasar reguler dan negosiasi dijadwalkan berakhir pada 17 Desember 2026.

Saham dengan nilai nominal baru Rp20 per saham akan mulai diperdagangkan pada 18 Desember 2026.

Rencana stock split tersebut muncul di tengah kinerja keuangan Prodia yang tumbuh pada semester I-2026.

Perseroan membukukan pendapatan bersih konsolidasian Rp1,11 triliun, naik 8,5% secara tahunan (year-on-year/YoY) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Laba bersih tahun berjalan meningkat 11,45% YoY menjadi Rp77,57 miliar. Sementara itu, kas dan deposito perseroan tercatat sebesar Rp646,13 miliar per 30 Juni 2026, dengan total liabilitas Rp301 miliar dan ekuitas Rp2,34 triliun.

Dari sisi operasional, Prodia melayani hampir 10 juta tes sepanjang semester I-2026. Perseroan menyebut pertumbuhan turut ditopang oleh kontribusi berbagai segmen pelanggan serta layanan pemeriksaan esoterik, yakni pemeriksaan laboratorium khusus.

Selain stock split, Prodia juga menjalankan program pembelian kembali saham atau buyback dengan dana maksimal Rp150 miliar pada periode 20 Agustus hingga 19 November 2026.

Berdasarkan keterbukaan informasi pada 19 Agustus 2026, buyback tersebut dilakukan di tengah kondisi pasar yang berfluktuasi dan ditujukan untuk mendukung stabilitas harga saham perseroan.

Stock split akan menambah jumlah saham PRDA yang beredar secara nominal, tetapi tidak secara langsung mengubah nilai perusahaan maupun kepemilikan investor.

Dampaknya terhadap likuiditas dan aktivitas perdagangan saham akan bergantung pada respons pasar setelah saham dengan nilai nominal baru mulai diperdagangkan.

(fik/naw)

No more pages