Seiring dengan pelebaran defisit tersebut, harga tembaga diproyeksikan merambat naik dari US$15.000/metrik ton pada 2029 menjadi US$15.800/metrik ton pada 2030, sebelum akhirnya stabil di angka US$17.000/metrik ton pada rentang 2033 hingga 2035.
"BMI memproyeksikan harga tembaga akan menyentuh level US$17.000/metrik ton pada 2035 karena pertumbuhan pasokan makin tertinggal dari pertumbuhan permintaan," tulis riset tersebut.
Penopang Permintaan
Peningkatan permintaan tembaga didorong oleh lonjakan kebutuhan industri kendaraan listrik serta pembangkit energi terbarukan.
Berdasarkan data International Energy Agency (IEA), pembuatan satu unit kendaraan listrik berbasis baterai memerlukan 53,2 kilogram tembaga.
Kebutuhan ini jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan mobil konvensional yang hanya menghabiskan 22,3 kilogram tembaga per unit.
Di sektor ketenagalistrikan, pembangkit tenaga angin atau PLTB membutuhkan hingga 8.000 kilogram tembaga per megawatt, sedangkan pembangkit angin darat memerlukan 2.900 kilogram per megawatt dan pembangkit listrik tenaga surya mengonsumsi 2.822,1 kilogram per megawatt.
Sebagai perbandingan, pembangkit listrik tenaga uap berbasis batu bara atau PLTU hanya membutuhkan 1.150 kilogram tembaga per megawatt.
"Pasar tembaga murni diperkirakan berubah dari surplus 43.300 metrik ton pada 2026 menjadi defisit 98.800 metrik ton pada 2027, dan defisit tersebut akan membengkak secara drastis hingga mencapai 1,7 juta metrik ton pada 2035," jelas BMI.
Selain sektor transisi energi, ekspansi infrastruktur kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dan pusat data atau data center turut menjadi pilar utama penopang permintaan tembaga di masa depan.
Pembangunan pusat data modern membutuhkan sekitar 20 hingga 40 metrik ton tembaga per megawatt daya terpasang.
Komoditas ini dimanfaatkan secara luas pada sistem distribusi daya, sistem pentanahan, konektor, hingga infrastruktur pendingin.
"BMI memproyeksikan pasar tembaga akan mengalami defisit yang makin membesar seiring terakselerasinya transisi hijau dan kebutuhan energi terbarukan," papar riset BMI.
Sebagai gambaran, berdasarkan riset BMI, prospek produksi tembaga murni global pada 2026 diproyeksikan tumbuh tipis sebesar 1,1% secara year on year (yoy), di mana pasar tembaga murni masih mencatatkan surplus terbatas sebesar 43.300 metrik ton.
Angka pertumbuhan produksi ini sebagian besar diimbangi oleh tingkat konsumsi global yang diproyeksikan tumbuh sebesar 1,8% yoy.
Data International Copper Study Group (ICSG) untuk periode Januari—Juli 2026 mencatat pertumbuhan produksi tembaga murni sebesar 1,7% yoy dengan surplus sementara mencapai 32.000 metrik ton.
Meskipun demikian, BMI merevisi turun proyeksi pertumbuhan produksi tambang tembaga dunia pada 2026 menjadi 1,1% yoy dari estimasi awal sebesar 2,4%.
Penurunan ini dipicu oleh kontraksi produksi tambang global sebesar 1,0% yoy pada tujuh bulan pertama 2026 akibat gangguan pasokan utama di Cili, Republik Demokratik Kongo (DRC), dan Indonesia.
Kendala operasional di negara-negara produsen utama menjadi penghambat mendasar bagi output pasokan tambang.
Produksi tambang Cili diperkirakan mengalami penurunan drastis sebesar 4,0% yoy pada 2026 akibat penurunan signifikan di tambang-tambang besar seperti Escondida, El Teniente, dan Spence.
Di samping itu, masalah operasional yang berlanjut pascainsiden 2025 di tambang Grasberg (Indonesia) dan Kamoa (Kongo) terus membatasi volume produksi.
Meskipun terdapat tren kenaikan produksi di Peru yang didorong oleh tambang Antamina serta ekspansi sebesar 18% yoy di proyek Oyu Tolgoi Mongolia, pertumbuhan pasokan global tetap tertekan oleh tantangan struktural berupa penurunan kadar bijih pada tambang-tambang tua yang memaksa pengolahan volume batuan lebih besar dengan biaya operasional yang lebih tinggi.
(wdh)




























