Logo Bloomberg Technoz

Kenaikan produksi Peru ditopang oleh kinerja tambang Antamina, sedangkan Mongolia mencatatkan lonjakan output sebesar 18% yoy seiring dengan peningkatan kapasitas (ramp up) proyek Oyu Tolgoi.

Namun, prospek pasokan hulu secara umum tetap terhambat oleh penurunan kadar bijih (ore grade) pada tambang-tambang tua.

“Kondisi ini memaksa produsen mengolah volume batuan bijih yang lebih besar demi mempertahankan tingkat output, sehingga mendongkrak biaya operasional,” ungkap BMI dalam risetnya.

Sebagai pembanding, berdasarkan data Copper Mine Production, total produksi tambang tembaga dunia pada 2025 tercatat mencapai sekitar 22,6 juta metrik ton.

Dengan proyeksi pertumbuhan sebesar 1,1% pada 2026, maka produksi tambang global diperkirakan hanya bertambah sekitar 248.600 metrik ton, sehingga total volume produksi pada 2026 menjadi sekitar 22,85 juta metrik ton.

Proyeksi defisit logam tembaga dunia./dok. BMI

Kapasitas Smelter

Meski begitu, pasokan hulu yang terbatas berbanding terbalik dengan ekspansi cepat kapasitas peleburan (smelter) global, khususnya di China.

Kesenjangan ini memicu persaingan ketat dalam pemenuhan bahan baku (feedstock) dan menekan biaya pengolahan serta pemurnian atau treatment and refining charges (TC/RCs) ke level yang sangat rendah.

Di samping tantangan hulu, sektor manufaktur dan pemurnian tembaga menghadapi kerentanan baru pada rantai pasok asam sulfat dan belerang—bahan kimia krusial dalam metode pelindian (leaching) hidrometalurgi atau solvent extraction and electrowinning (SX-EW). 

Menurut ICSG, metode SX-EW menyumbang 4,8 juta metrik ton atau 21% dari total produksi tambang tembaga dunia pada 2024, di mana Cili dan Kongo merupakan pengguna terbesar.

"Asam sulfat dan belerang kini menjadi titik kerentanan kritis dalam rantai pasok tembaga. Pasar tembaga tertekan oleh gangguan pengiriman belerang dari Timur Tengah yang melewati Selat Hormuz. Ditambah dengan keputusan China yang menghentikan ekspor asam sulfat sejak Mei 2026," ungkap analisis riset tersebut.

Penguatan permintaan tembaga di China./dok. BMI

Meskipun indikator pengiriman asam sulfat dari China ke Cile tetap berjalan dan harga belerang melandai tipis untuk jangka pendek, risiko rantai pasok jangka panjang tetap membayangi.

Jalur pengiriman belerang via Selat Hormuz memegang peranan vital karena wilayah tersebut menyumbang sekitar 24% dari total produksi belerang dunia.

Secara keseluruhan, pasar tembaga murni diproyeksikan tumbuh tipis sebesar 1,1% yoy pada 2026, sementara tingkat konsumsi tumbuh lebih tinggi di angka 1,8% yoy.

"Data ICSG menunjukkan produksi tembaga murni tumbuh 1,7% [yoy] pada Januari—Juli 2026 dengan surplus sementara sebesar 32.000 metrik ton," catat lembaga riset tersebut.

Meskipun pertumbuhan pasokan melambat, keseimbangan pasar tembaga olahan diperkirakan belum akan mengalami kelangkaan mutlak dalam waktu dekat.

"Meski begitu dari sisi pasokan, pasar tembaga diperkirakan tetap mengalami surplus sebesar 43.300 metrik ton pada 2026, yang menunjukkan bahwa pasar tembaga murni belum menghadapi kelangkaan mutlak," tutup BMI.

Proyeksi dan indikator pasokan tembaga global 2026 berdasarkan riset BMI:

A. Pertumbuhan Produksi Tambang Cili: Diproyeksikan turun -4,0% yoy akibat penurunan operasional di tambang Escondida, El Teniente, dan Spence.

B. Pertumbuhan Pertambangan Regional Lain:

    1. Peru: Produksi tumbuh +2,2% yoy (didorong performa tambang Antamina).
    2. Mongolia: Produksi melonjak +18,0% yoy (efek ramp up Oyu Tolgoi).

C. Keseimbangan Pasar Tembaga Murni (Sisi Pasokan & Konsumsi):

    1. Pertumbuhan Produksi Tembaga Murni: 1,1% yoy
    2. Pertumbuhan Konsumsi Tembaga Murni: 1,8% yoy

D. Estimasi Surplus Pasokan 2026: 43.300 metrik ton

E. Realisasi ICSG (Januari—Juli 2026):

    1. Pertumbuhan Produksi Tembaga Murni: 1,7% yoy
    2. Surplus Sementara Pasokan: 32.000 metrik ton

Menghadapi perlambatan pasokan ini, BMI mengatakan industri pertambangan global kini dituntut mempercepat investasi dalam eksplorasi dan teknologi efisiensi pengolahan bijih tembaga.

Ketergantungan pada tambang-tambang tua dengan kadar bijih yang terus merosot tidak lagi memadai untuk mengimbangi laju permintaan logam industri yang kian meningkat pada era transisi energi dunia.

Pemerintah di negara-negara produsen utama, termasuk Indonesia dan Cili, juga perlu memperkuat stabilitas operasional serta kepastian regulasi di sektor pertambangan hulu.

Langkah ini penting guna meminimalkan risiko gangguan pasokan berulang serta menarik minat investor dalam pengembangan proyek tambang skala besar yang membutuhkan tenggat waktu konstruksi panjang.

(wdh)

No more pages