Logo Bloomberg Technoz

Secara keseluruhan, lanjutnya,  komitmen total dalam kesepakatan tersebut mencapai 4,8 juta metrik ton atau sekitar 35,76 juta barel.

Jumlah ini pada hakikatnya hanya mampu mencukupi kebutuhan domestik AS selama 10 hari, atau sekadar memenuhi konsumsi global untuk durasi sedikit lebih dari satu hari.

“Jadi langkah ini kemungkinan besar hanya difokuskan untuk kepentingan domestik AS semata. Pasar global pun saat ini merespons secara biasa saja,” tambahnya. 

Belum Stabil

Di sisi lain, potensi pasokan tambahan dari Rusia tersebut dipastikan tidak mampu menstabilkan harga minyak internasional. 

Menurut Hadi, faktor utama yang saat ini mendominasi pergerakan harga minyak global masih berkaitan dengan eskalasi konflik militer di Timur Tengah, khususnya ketegangan antara Iran dan AS di Selat Hormuz serta perseteruan kelompok Houthi dengan Arab Saudi di wilayah Yaman Utara dan Bab El Mandeb.

“Mengingat kedua kawasan tersebut merupakan jalur vital lalu lintas minyak dan LNG dunia, tren harga minyak mentah justru terus merangkak naik menuju level US$110/barel,” terang Hadi. 

Lonjakan Harga Diesel Melampaui Kenaikan Harga Minyak Mentah. (Bloomberg)

Dampak ke RI

Menurutnya, jika konflik di Timur Tengah tidak mereda, lonjakan harga minyak mentah ke level tersebut diproyeksikan merembet pada lonjakan harga solar di dalam negeri. 

Dengan asumsi nilai tukar rupiah berada di level Rp17.800/US$ dan imbal hasil (yield) rata-rata pemrosesan bahan bakar distilat sebesar 0,7, maka harga keekonomian solar diperkirakan menembus kisaran Rp17.600/liter. 

“Saat ini, harga diesel industri yang berada di angka Rp18.950/liter sudah melampaui titik keekonomiannya, sedangkan harga diesel subsidi sebesar Rp6.800/liter sudah sangat jauh tertinggal dari harga riil di pasar, yang berpotensi membengkakkan beban subsidi negara,” jelasnya.

Sebelumnya, Trump mengatakan Putin setuju untuk melepas pasokan solar Rusia ke pasar global ketika pemerintahan AS berupaya meredam lonjakan harga bahan bakar dalam beberapa pekan menjelang pemilihan umum sela.

Trump mengumumkan pada Sabtu (10/10/2026) pelepasan segera sebanyak 2,25 juta barel solar pada Oktober ke pasar AS dan global, diikuti 3,75 juta barel pada November, serta 7,5 juta barel setelahnya.

Trump menambahkan, berdasarkan kondisi kilang solar mereka, Rusia kemudian akan mengirimkan 3 juta ton bahan bakar solar dalam waktu singkat. Jumlah tersebut setara dengan sekitar 22,5 juta barel.

Sementara itu, Departemen Keuangan AS menerbitkan pengecualian sanksi (waiver) untuk solar Rusia. Kremlin juga merilis pernyataan mengutip Putin, yang menegaaskan Rusia siap memasok minyak dan produk minyak bumi ke pasar AS dan global.

Pun demikian, pembatasan global lainnya terhadap pasokan Rusia masih tetap berlaku.

Langkah besar AS terkait dengan solar Rusia ini membalikkan kebijakan sanksi yang telah diberlakukan selama bertahun-tahun untuk membatasi keuntungan Rusia setelah invasinya ke Ukraina.

Kebijakan tersebut merupakan upaya menambah kelonggaran pasokan di pasar global yang kesulitan mengatasi kelangkaan solar berkepanjangan—bahan bakar penting untuk transportasi, pemanas, dan pembangkit listrik.

Kontrak berjangka solar AS merosot setelah pengumuman tersebut. Namun, terdapat sejumlah kendala besar untuk menambah pasokan, dan pelepasan produk pada tahap awal mungkin tidak cukup besar untuk menurunkan harga solar di AS.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menanggapi tindakan pemerintahan Trump melalui unggahan di X.

Dia mengatakan bahwa “setiap pelonggaran sanksi terhadap Rusia tanpa kesepakatan de eskalasi yang jelas dan berkelanjutan dengan Rusia merupakan bentuk kelemahan yang nyata.”

Di sisi lain, Rusia telah memberlakukan larangan ekspor solar secara sepihak sejak Juli, menyusul serangan pesawat nirawak Ukraina terhadap kilang-kilang minyaknya selama beberapa bulan.

(wdh)

No more pages