Logo Bloomberg Technoz

Rupiah Hari Ini Rawan, Pasar Cermati Data Utang Luar Negeri

Tim Riset Bloomberg Technoz
15 October 2026 08:26

Nasabah menukarkan uang rupiah ke dolar AS di tempat penukaran uang asing di Jakarta, Selasa (29/9/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Nasabah menukarkan uang rupiah ke dolar AS di tempat penukaran uang asing di Jakarta, Selasa (29/9/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Rupiah hari ini, Kamis (15/10/2026), diproyeksikan kembali tertekan oleh meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS) Federa; Reserve pada pertemuan Oktober. Ekspektasi itu dipicu realiasasi data inflasi Negeri Adidaya yang lebih tinggi dari perkiraan. 

Indeks Harga Konsumen (IHK) AS naik 0,6% pada September secara bulanan (month-to-month/mtm). Sementara inflasi tahunan tercatat 3,7% lebih tinggi dari proyeksi 3,6%, dan naik dari bulan sebelumnya 3,4%. 

Data Fedwatch menunjukkan kenaikan probabilitas sikap hawkish The Fed pada pertemuan Oktober. Kemarin, probabilitas The Fed mengerek suku bunga 4-4,25% masih sekitar 22,5%. Namun pagi ini naik jadi 29,3%. 


Ekspektasi inflasi tersebut mulai memengaruhi gerak di pasar valuta Asia. Yen Jepang memang masih menguat bersama dolar Singapura, yuan offshore. Namun, won Korea Selatan dan ringgit Malaysia melemah. 

Adapun pergerakan rupiah di pasar Non-Deliverable Forwards (NDF) sempat defensif dan menguat 0,17% di Rp17.947/US$. Namun tak lama berselang, penguatan rupiah offshore menyusut dan tersisa 0,02% menjadi Rp17.968/US$. 

Pergerakan mata uang Asia pada Kamis (15/10/2026), pukul 07.37 WIB. (Bloomberg)