Sementara harga minyak Brent ikut terkerek 0,35% ke posisi US$106,06/barel, meski indeks dolar AS terhadap enam mata uang utama sedikit terpangkas 0,16% menjadi 102,39. Tekanan dolar AS sedikit melandai menyusul yield di pasar obligasi AS tenor 10 tahun terpangkas 2,3 basis poin (bps) di level 5,18%.
Meski yield US Treasury sedikit turun, obligasi negara-negara lain justru mengalami kenaikan. Seperti yield obligasi pemerintah Prancis tenor 10 tahun naik 4,4 bps jadi 4,87%, diikuti Jerman naik 0,1 bps jadi 3,46%, Italia naik 2 bps jadi 4,54%, dan Spanyol naik 1,4 bps jadi 4,08%.
Dari Asia belum ada perubahan signifikan di pasar obligasi pada. Obligasi Jepang masih mampu menopang gerak yen pagi ini. JGB 10 tahun terpangkas 5,3 bps jadi 2,93%, diikuti Korea Selatan 4,25% dan Taiwan turun 1,2 bps jadi 1,85%.
Sementara negara lainnya relatif stabil. Indonesia di 7,18%, India 7,4%, Filipina 7,75%, Singapura 2,35%, dan Thailand 2,29%.
Perhatian pelaku pasar hari ini akan tertuju pada pidato Anggota Dewan Gubernur Bank of Japan (BOJ) Junko Koeda yang dijadwalkan berlangsung hari ini. Pernyataannya dinilai penting untuk mengukur arah kebijakan bank sentral Jepang secara keseluruhan, lantaran ia dipandang relatif moderat di antara anggota BOJ lainnya.
Dari dalam negeri, konflik berkepanjangan yang membuat gangguan pasokan energi masih berlangsung masih jadi faktor pemberat, selain pelaku pasar juga memperhatikan pengaruhnya terhadap inflasi.
Dana Moneter Internasional (IMF) memperingatkan konflik geopolitik masih akan menimbulkan risiko bagi negara pengimpor minyak, termasuk Indonesia. Sentimen itu diperburuk dengan adanya gangguan pasokan energi (BBM) di sejumlah daerah sejak awal pekan ini.
Krisis distribusi BBM melanda 11 provinsi di Indonesia, yakni di Provinsi Bali, Papua Barat, Banten, Kalimantan Barat, Sumatra Barat, Sumatra Utara, Sulawesi Barat, Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara, Aceh, dan Jawa Barat.
Sedangkan dari sisi fiskal, di tengah tekanan harga minyak di level US$106/barel, pelaku pasar masih akan terus mencermati efektivitas dan efisiensi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Terutama dalam menjaga keseimbangan antara pembiayaan program prioritas, perlindungan daya beli masyarakat, dan keberlanjutan fiskal.
Menteri Keuangan Suahasil Nazara sebelumnya mengatakan bahwa ia menempatkan kredibilitas APBN sebagai fokus utama dalam periode kepemimpinannya. Defisit APBN 2026 diperkirakan sekitar 2,85% Produk Domestik Bruto (PDB), sementara APBN 2027 dirancang dengan defisit lebih rendah di 2,4% PDB. Adapun, APBN 2027 menargetkan pertumbuhan penerimaan pajak di atas 22-23%.
Investor akan mencermati kemampuan Indonesia dalam membayar utang. Meskipin defisit masih di bawah 3% dan rasio utang terhadap PDB masih berada di sekitar 40%, rasio penerimaan terhadap pembayaran beban utang, baik bunga dan cicilannya, sudah mencapai 47%.
Hal ini menggambarkan bahwa hampir separuh dari pendapatan negara terpakai untuk membayar utang.
Hari ini, pelaku pasar akan mencermati posisi utang luar negeri Indonesia periode Agustus. Data Statistik Utang Luar Negeri Indonesia (SULNI) terakhir, utang luar negeri Indonesia tercatat naik 4,9% jadi US$454,76 miliar, setara dengan Rp8.139,2 triliun, menggunakan kurs Rp17.900/US$.
Dengan tekanan dan sentimen yang berkelindan, rupiah hari ini diperkirakan masih akan tertekan di pasar spot, dengan retang pergerakan di kisaran Rp17.900-17.950/US$.
Jika tekanan menghebat dengan berlanjutkan aksi jual di pasar saham dan obligasi, rupiah diperkirakan dapat melaju di level Rp17.980-18.000/US$. Namun, Bank Indonesia (BI) akan mengambil langkah intervensi yang cukup intensif demi meredam volatilitas mata uang Garuda hari ini.
Analisis Teknikal
Secara teknikal, nilai tukar rupiah berisiko melanjutkan tren pelemahan. Target pelemahan menuju level Rp17.950/US$ yang merupakan support pertama dengan target pelemahan kedua harus tertahan di Rp18.000/US$ untuk menjauh dari sMA-100.
Apabila kembali menjebol kedua support tersebut dengan volume yang besar, maka rupiah bisa saja melemah leboh lanjut menuju level pesimistis Rp18.100/US$ sebagai support terkuatnya.
Namun jika nilai tukar rupiah bisa menguat hari ini, maka resistance yang menarik dicermati ada di level Rp17.850/US$ dan selanjutnya menembus Rp17.800/US$ secara potensial.
(riset/aji)



























