Logo Bloomberg Technoz

Tanda-tanda kehati-hatian di kalangan operator kapal semakin terlihat. Data pelacakan kapal yang dihimpun Bloomberg menunjukkan lebih dari selusin kapal tanker superbesar dan beberapa kapal kelas Suezmax berbalik arah atau mengubah haluan saat mendekati Fujairah, pusat pelayaran penting di Uni Emirat Arab yang terletak di dekat pintu masuk Selat Hormuz.

Pialang kapal dan sejumlah pemilik kapal yang beroperasi di kawasan tersebut menyebutkan tanda-tanda lain perlambatan lalu lintas, terutama waktu tunggu yang lebih lama untuk pemindahan muatan antarkapal. Namun, seorang pemilik kapal yang terlibat dalam kegiatan tersebut mengatakan bahwa ia belum mengalami perlambatan.

Pemindahan muatan antarkapal merupakan proses ketika kapal tanker pengangkut melakukan pelayaran berisiko melintasi Selat Hormuz, kemudian memindahkan minyak yang dibawanya ke kapal lain untuk dikirim kepada pembeli akhir. Kegiatan ini berperan penting dalam meningkatkan ekspor dari kawasan tersebut.

Pekan lalu, sebelum eskalasi terbaru, CEO Shell Plc Wael Sawan memperkirakan arus minyak dari Timur Tengah telah mencapai sekitar 80% dari volume sebelum konflik. Sementara itu, Russell Hardy, pimpinan perusahaan perdagangan komoditas Vitol Group, mengatakan pada 6 Oktober bahwa sebanyak 12 juta barel minyak mentah dan tambahan 2 juta barel produk bahan bakar per hari telah keluar melalui Selat Hormuz.

Citra satelit terminal ekspor di dalam Teluk Persia, yang hanya memberikan gambaran sebagian karena pengambilan gambar dilakukan secara berkala, belum menunjukkan sinyal jelas mengenai perlambatan aktivitas.

Di terminal minyak Arab Saudi yang menghadap Teluk Persia, aktivitas pemuatan telah melambat dibandingkan lonjakan pada akhir September. Delapan citra dari satelit Sentinel 1 dan Sentinel 2 milik Uni Eropa, yang mencakup periode tujuh hari hingga 12 Oktober, menunjukkan rata-rata empat dari tujuh pelampung pemuatan digunakan. Angka itu lebih rendah dibandingkan lima hingga enam pelampung yang digunakan selama lonjakan aktivitas sebelumnya.

Di terminal minyak selatan Irak, lima hingga enam kapal tanker terlihat melakukan pemuatan pada masing-masing dari dua hari pada bulan ini ketika citra satelit Sentinel 2 tersedia. Jumlah tersebut sejalan dengan tingkat pemuatan yang terpantau pada paruh kedua September.

Kapal-kapal yang melintasi jalur perairan tersebut telah menjadi sasaran serangan selama sebagian besar perang Iran, meskipun intensitasnya berubah-ubah. Gelombang serangan besar sebelumnya sempat menyebabkan penurunan pengiriman dalam waktu singkat. Namun, penurunan itu kerap diimbangi oleh peningkatan volume pengiriman pada hari-hari berikutnya.

Pada Juli, serangkaian serangan Iran memaksa aktivitas pengangkutan minyak secara berulang melalui Selat Hormuz terhenti sementara. Kondisi itu mengganggu aliran pasokan penting ke pasar global dan turut memicu kenaikan harga minyak. Pada Selasa, pimpinan perusahaan pelayaran Arab Saudi mengatakan kerajaan tersebut tetap teguh menghadapi situasi ini.

“Saat ini, semua orang memahami pentingnya transportasi, kapal, dan seluruh rantai pasokan. Kami akan tetap mengirimkan pasokan dengan penuh keteguhan dan ketahanan,” kata CEO Bahri Ahmed Ali Alsubaey dalam WPC Energy Congress.

Acara yang berlangsung di Riyadh itu tetap digelar meskipun terjadi serangan Houthi yang mematikan terhadap bandara-bandara di kota tersebut. Namun, banyak eksekutif dari perusahaan minyak internasional membatalkan kehadiran mereka.

(bbn)

No more pages