Indonesia, lanjutnya, perlu beralih ke produksi bahan baku antara yang lebih canggih dan produk manufaktur bernilai tambah tinggi.
Langkah tersebut diperlukan agar Indonesia dapat menjangkau pasar yang lebih luas sekaligus menciptakan lapangan kerja dengan kebutuhan keterampilan yang lebih tinggi.
Karena itu, Juda menilai pengalaman negara lain dapat menjadi referensi bagi Indonesia untuk mempercepat transformasi ekonomi. Namun, dia mengingatkan tidak ada satu model pembangunan yang dapat diterapkan secara persis kepada semua negara.
Dia mencontohkan Korea Selatan yang memberikan pelajaran mengenai industrialisasi dan ekspor. Sementara itu, Vietnam menunjukkan bagaimana integrasi dengan rantai pasok global dapat mendukung perkembangan industri manufaktur.
"India tentang skala pasar yang besar, teknologi dan jasa modern. Thailand tentang pengembangan industri dan tantangan produktivitas."
Meski demikian, Juda menegaskan Indonesia tidak bisa sekadar menyalin kebijakan negara-negara tersebut. Strategi pembangunan perlu disesuaikan dengan karakteristik dan persoalan ekonomi domestik.
Indonesia, menurutnya, memiliki sejumlah modal berupa kekayaan sumber daya alam, pasar domestik yang besar, serta potensi sumber daya manusia.
Namun, Indonesia juga menghadapi tantangan terkait kualitas tenaga kerja, kemampuan industri, kapasitas fiskal, serta kesenjangan produktivitas antarwilayah dan antarpelaku usaha.
"Oleh sebab itu program prioritas nasional pemerintah diarahkan pada upaya untuk memperkuat fondasi dan mengakselerasi ekonomi kompleksitas. Seperti kualitas SDM, hilirisasi dan industrialisasi, digital dan innovation, dan juga termasuk ketahanan pangan dan energi," pungkasnya.
(prc/ell)































