Menurut paparan publik terbaru, TEBE tengah menjajaki pengembangan layanan pelabuhan untuk komoditas selain batu bara. Perusahaan juga telah mengajukan izin usaha perdagangan bahan bakar melalui PT Talenta Bumi Energi (TBE).
Berdasarkan laporan tahunan, TEBE memiliki 99,96% saham TBE, yang didirikan untuk menjalankan usaha perdagangan besar bahan bakar padat, cair, dan gas, beserta produk terkait. Hingga akhir 2025, TBE belum memulai kegiatan operasional komersial.
Menurut catatan Trimegah Sekuritas, TEBE memastikan pelabuhannya dapat menangani jenis kargo lain, dengan tetap memenuhi persyaratan perizinan, termasuk barang terkait energi dan material operasional.
Pada tahap awal, perusahaan akan memprioritaskan kebutuhan internal grup guna meningkatkan keandalan dan efisiensi rantai pasok. Pelanggan pihak ketiga berpotensi dilayani pada tahap berikutnya.
Mengutip catatan Trimegah Sekuritas, rencana tersebut masih berada dalam tahap kajian, yang mencakup potensi pasar, kesiapan aset, dan kelayakan finansial. TEBE belum memaparkan rencana bisnis maupun jadwal implementasi yang jelas.
Dalam perspektif valuasi, TEBE kini diperdagangkan pada rasio harga terhadap laba (P/E) sebesar 90 kali berdasarkan laba tahun buku 2026 yang disetahunkan (annualized FY26), serta rasio harga terhadap nilai buku (P/BV) sebesar 3,4 kali.
“Valuasi tersebut menempatkan TEBE pada premi yang signifikan dibandingkan emiten sejenis di industrinya,” dikutip dari catatan Trimegah.
Adapun, valuasi TEBE lebih premium jika disandikan dengan PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) yang lebih dahulu bergerak di bisnis perdagangan dan distribusi BBM.
AKRA kini diperdagangkan dengan PE ratio yang disetahunkan sebesar 10,31 kali, dengan book value 2,28 kali. Dari lantai bursa, saham AKRA kini berada di level Rp1.485 per saham sampai penutupan perdagangan sesi I, Selasa (13/10/2026).
(naw)





























