Logo Bloomberg Technoz

Bukan tanpa sebab, lelang surat utang yag berlangsung hingga 11:00 WIB tadi menghadapi beberapa tekanan domestik. Pertama, depresiasi nilai tukar rupiah 0,11% ke Rp17.920/US$. Kedua, ketidakpastian inflasi yang ditandai dengan kenaikan inflasi September sebesar 3,28% secara tahunan.

Ketiga, prospek pertumbuhan kuartal IV-2026 yang sedikit memudar dengan persepsi konsumen soal ekonomi kian melemah. Keempat, beban fiskal diperkirakan akan semakin berat dengan kenaikan harga minyak global.

Tekanan itu diikuti dengan tekanan eksternal yang penuh ketidakpastian. Bukan hanya harga minyak yang bertahan tinggi dan menyebabkan ekspektasi inflasi global meninggi, tapi juga prospek pertumbuhan ekonomi global dibayangi inflasi dan melemahnya daya beli akibat tergerusnya lapangan pekerjaan oleh kecerdasan buatan (AI).

Di masa penuh ketidakpastian seperti sekarang, investor berpotensi mempertimbangkan seri jangka pendek demi menjaga likuiditas dan membatasi risiko perubahan harga. Sebaliknya surat utang bertenor panjang kemungkinan masih akan menghadapi tantangan penyerapan, karena harganya akan lebih sensitif terhadap perubahan yield global. 

Namun, jika pemerintah menawarkan yield yang cukup kompetitif, seri tenor panjang tetap berpeluang mendulang permintaan dari investor institusional, yang membutuhkan instrumen jangka panjang untuk pengelolaan portofolionya. 

Pergerakan yield di pasar obligasi. (Bloomberg)

Sementara itu, dengan adanya lelang surat utang, pergerakan yield siang ini cenderung menguat. Aksi beli terjadi di sejumlah tenor, khususnya pendek-menengah.

Yield tenor 1 tahun terpangkas 3,5 basis poin (bps) ke 6,68%, diikuti tenor 2-3 tahun turun 1 dan 1,4 bps jadi 6,78% dan 6,91%. Bahkan, kali ini yield tenor acuan 10 tahun ikut terpangkas 1,9 bps jadi 7,19%. 

Penguatan tersebut mengindikasikan pasar surat utang domestik masih punya daya tarik di tengah tekanan yang membayangi aset keuangan Indonesia. 

Khusus tenor acuan 10 tahun yang turun 1,9 bps menjadi sinyal penting. Sebab, sepanjang pekan lalu gerak yield tenor acuan berada di kisaran 7,2%. 

Namun, penguatan di pasar sekunder itu juga perlu dibaca lebih hati-hati, lantaran yield US Treasury tenor 10 tahun masih bertahan di 5,19% dan harga minyak di US$105/barel, artinya tekanan eksternal belum sepenuhnya hilang. 

Pelaku pasar akan mencermati data inflasi AS yang akan dirilis besok malam. Pasar memperkirakan inflasi umum meninggi jadi 0,6% secara bulanan atau 3,6% tahunan.

(dsp/aji)

No more pages