Jumlah investor pasar modal yang menembus 31 juta itu, didominasi oleh investor individu alias ritel yang sebanyak 30 juta. Investor pasar modal di Indonesia juga didominasi oleh kelas menengah dengan penghasilan kurang dari Rp10 juta mencapai 32,2%, lalu investor dengan penghasilan antara Rp10 juta hingga Rp100 juta proporsinya mencapai 56,8%. Sementara investor dengan pendapatan Rp100 juta-Rp500 juta mencapai 8,3% dari total jumlah investor di pasar modal.
Dari sisi profil usia, investor milenial muda dan Gen Z menjadi yang paling dominan. Jumlah investor pasar modal dengan usia di bawah 30 tahun mencapai 55,2% pada Agustus lalu. Sedangkan usia 31-40 tahun mencapai 25,39%.
Yang menarik, kinerja pasar yang buruk ternyata tidak menyurutkan minat warga kelas menengah dan muda ini untuk mencoba bertaruh di pasar modal. Menurut catatan EBC Financial Group, yang mengutip data Otoritas Jasa Keuangan, jumlah invetsor pasar modal RI bertambah 1,03 juta orang pada September ketika kinerja IHSG terkoreksi 6,69% pada bulan tersebut yang membawa indeks saham RI ambles 28,8% year-to-date.
"Sebagian besar investor baru Indonesia masih berusia muda dan memulai dengan dana yang kecil. Koreksi seperti ini kerap menjadi ujian nyata pertama bagi mereka. Dengan memahami apa saja yang bisa menggerakkan IHSG, mulai dari aturan perdagangan, aliran dana asing, hingga review indeks, investor dapat menyikapi pergerakan harga dengan tepat, bukan sekadar bereaksi," ujar Sana Ur Rehman, Financial Market Analyst EBC Financial Group.
Kendati mendominasi dari sisi jumlah, investor muda hanya menguasai 3,87% aset investor individu yang tercatat di KSEI, baik di efek maupun reksa dana. Sebaliknya, investor berusia di atas 60 tahun menguasai 48,65%. Persentase tersebut merupakan hasil perhitungan EBC berdasarkan data sebaran usia KSEI per Agustus 2026.
Upaya bertahan
Fransiscus, pegawai swasta berusia 30 tahun di Jakarta, adalah salah satu investor di pasar modal yang mungkin bisa jadi representasi. Sudah tiga tahun terakhir dia menggeser porsi tabungan di perbankan ke investasi di pasar modal dan kripto. Semula, Franciscus menempatkan 20% pendapatannya di rekening tabungan di bank. Lalu, 10% dari gaji bulanan ia putar di instrumen investasi. Sisa pendapatan ia pakai untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Kini, ia menaruh 20% pendapatandi pasar modal dan aset kripto. Sebanyak 70% tetap untuk memenuhi kebutuhan hidup. “Untuk tabungan itu hanya sekitar 10%,” cerita Fransiscus.
Baca juga: Pertumbuhan Ekonomi Dibanggakan, tapi Pembagian 'Kue' Tak Merata
Keputusan ini bukanlah tanpa alasan. Baginya, tekanan ekonomi saat ini telah menguras isi dompetnya untuk memenuhi kehidupan sehari-hari. Jika hanya mengandalkan menabung di bank, pendapatannya bisa makin tergerus inflasi dan mimpi memiliki rumah atau kendaraan pribadi bisa kian jauh. Masuk ke instrumen investasi ia tempuh karena berpeluang memberikan keuntungan lebih besar, sehingga mendekatkannya dengan impian memiliki rumah suatu hari kelak.
Ivan Primus, pekerja swasta berusia 28 tahun di Jakarta, juga memiliki cerita serupa. Ivan bahkan mengalokasikan lebih dari 50% pendapatan bulanannya di instrumen investasi agar tumbuh lebih cepat. Ia bilang, sudah tidak tertarik menabung di bank konvensional, karena imbal hasilnya tak signifikan.
Fenomena ini tak eksklusif terjadi di Indonesia. Riset oleh Younggeun Yoo dan Seung Hyeong Lee menunjukkan pola serupa terjadi di antara sebagian kelas menengah muda di Amerika Serikat. Seperti dilaporkan Bloomberg Businessweek edisi April 2026, alih-alih mengendapkan sisa pendapatan di tabungan, sebagian kelas menengah muda di AS kini memutar dana ke sejumlah instrumen berisiko yang dianggap lebih menjanjikan keuntungan, seperti perdagangan opsi, saham meme, hingga kripto.
Pendorongnya serupa, yakni keputusasaan kaum muda mendapati harga rumah yang semakin tidak terjangkau di negeri itu. Survei Harris Poll pada 2024 mendapati, 42% orang dewasa di AS serta hampir separuh Gen Z setuju dengan pernyataan: “Sekeras apa pun saya bekerja, saya tidak akan pernah mampu membeli rumah yang saya impikan.” Dengan memutar dana di instrumen berisiko, mereka berharap dapat meraih untung dan pada akhirnya bisa kembali ke pasar perumahan.
Baca juga: Badai Ekonomi Masih akan Dahsyat
Ikhtiar penghuni 'papan tengah' untuk bertahan agar tak sampai turun kelas melalui langkah investasi di pasar modal, agaknya semakin sulit dengan kondisi pasar saat ini yang kian ambles di zona merah. Indeks saham domestik sepanjang tahun ini menjadi bursa dengan kinerja terburuk di dunia, di mana dana investor asing sudah keluar hingga senilai Rp111,19 triliun year-to-date.
Angka itu menjadi nilai net sell asing terbesar dibanding arus outflow ketika krisis akibat pandemi tahun 2020 maupun saat krisis finansial global pada 2008. Pada dua episode krisis tersebut, nilai outflow asing dari bursa saham tercatat masing-masing Rp53,8 triliun dan Rp50,17 triliun.
Baca laporan selengkapnya tanpa batas di Bloomberg Businessweek Indonesia di sini, cukup dengan registrasi diri. Bloomberg Businessweek Indonesia Edisi Oktober 2026 juga mengangkat isu di balik kian sepinya bisnis penggemukan sapi. Juga tantangan besar yang menghadang perusahaan maskapai penerbangan sampai-sampai ramai menutup rute penerbangan yang sejatinya cukup sibuk dan populer.
Setiap laporan dirangkai dengan pendekatan jurnalisme mendalam khas Bloomberg Businessweek yang menonjolkan data, konteks, dan cerita manusia di balik sebuah peristiwa. Untuk mengakses liputan lengkap, pembaca dapat menikmati seluruh konten Bloomberg Businessweek Indonesia dalam berbagai edisi tanpa batasan dan biaya. Cukup daftarkan email di https://www.bloombergtechnoz.com/businessweek untuk menikmati keseluruhan artikel dan membaca e-magazine di sini.
--update dan penambahan di paragraf 8
(bbw)

























