Logo Bloomberg Technoz

Prediksi Rupiah Hari Ini Kala Minyak Bertengger di US$105/Barel

Tim Riset Bloomberg Technoz
13 October 2026 08:21

Karyawan merapihkan uang rupiah dan dolar AS di tempat penukaran uang asing di Jakarta, Selasa (29/9/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Karyawan merapihkan uang rupiah dan dolar AS di tempat penukaran uang asing di Jakarta, Selasa (29/9/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta -Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) hari ini, Selasa (13/10/2026), diperkirakan melanjutkan pelemahan. Di pasar Non-Deliverable Forwards (NDF), rupiah terdepresiasi dan bertengger di Rp17.952/US$. 

Namun, pergerakan di pasar valuta relatif beragam. Pagi ini di perdagangan pasar spot, ringgit Malaysia, dolar Singapura, dan yuan China melemah terbatas. Namun yen Jepang, won Korea Selatan, dolar Hong Kong berhasil defensif dan berada di zona hijau. 

Mata uang Asia pada Selasa (13/10/2026). (Bloomberg)

Pergerakan di pasar mata uang Asia disebabkan oleh tekanan eksternal dari harga minyak belum kunjung mereda. Pagi ini, minyak Brent dibanderol US$105,85/barel. Meskipun turun 0,75%, posisi harga minyak yang terus tinggi membuat alarm inflasi global terus menyala. 


Indeks dolar Amerika Serikat (AS) ikut terseret kenaikan harga minyak lantaran ekspektasi inflasi kembali meninggi. Mengacu Fedwatch, probabilitas kenaikan suku bunga The Fed naik jadi 4-4,25% berubah sebesar 20,5% dari sebelumnya 17%. Sedangkan, probabilitas suku bunga The Fed tetap di 3,75-4% menurun jadi 79,5%.

Meski begitu, obligasi pemerintah AS sedikit melandai, untuk tenor 10 tahun berada di kisaran 5,22% setelah terpangkas 1,7 basis poin (bps). Penurunan yield diikuti obligasi pemerintah China menurun 1,4 bps ke 1,64%, obligasi Inggris turun 0,2 bps jadi 5,43%.