Logo Bloomberg Technoz

Adapun, beberapa obligasi negara Asia lainnya cukup stabil. Yield obligasi Korea Selatan tenor 10 tahun ada di 4,29%, India 7,38%, Taiwan 1,86%, Thailand 2,3% dan Filipina 7,75%. Sebaliknya, yield obligasi  Jepang terkerek 1,6 bps jadi 3,01%. 

Beberapa mata uang yang berhasil defensif tertopang oleh data ekonomi, ketahanan terhadap tekanan eksternal, serta kebijakan moneter domestiknya. Won Korea Selatan, misalnya, menguat lantaran adanya kebijakan penjualan dolar AS oleh perusahaan-perusahaan dan para eksportir Korea Selatan.  

Sentimen Dalam Negeri

Bagi Indonesia, tekanan eksternal kali ini diperparah oleh memburuknya persepsi terhadap kebijakan domestik. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan kemarin  ditutup melemah 2,59% ke 5.936,15. 

Selain itu, perkembangan cadangan devisa US$146,3 miliar memberi bantalan yang cukup bagi perekonomian Indonesia. Cadangan tersebut setara dengan pembiayaan sekitar 5,3 bulan impor, atau 5,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. 

Akan tetapi, posisi cadangan devisa kali ini masih berada di bawah posisi periode sama tahun lalu di US$148,73 miliar. Ditambah, kondisi neraca perdagangan dari data ekspor-impor belum sepenuhnya mendukung pertambahan cadangan devisa ke depan secara berkelanjutan.

Investor global juga mencermati upaya pemerintah mengelola bencana banjir di Sumatera, serta penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Investor yang kini mulai berkesadaran lingkungan akan mempertanyakan komitmen Indonesia terhadap keberlanjutan lingkungan, pengendalian emisi dan tata kelola sumber daya alam. 

Di tengah sentimen yang saling berkelindan ini, rupiah diperkirakan berpotensi berada di rentang Rp17.900-Rp17.950/US$. 

Namun, level Rp17.950-Rp18.000/US$ menjadi area yang bisa diwaspadai, terlebih jika tekanan jual meningkat termasuk di pasar obligasi RI. 

Sementara, penguatan menuju Rp17.850/US$ sepertinya masih akan sangat membutuhkan dukungan sentimen eksternal yang lebih kondusif, serta perlu ditopang dengan peningkatan ekspektasi prospek pertumbuhan ekonomi dengan adanya dukungan perbaikan daya beli konsumen Tanah Air.

Analisis Teknikal

Secara teknikal, nilai tukar rupiah berpotensi lanjut melemah hari ini. Cermati support terdekat di level Rp17.950/US$ dengan target pelemahan kedua tertahan di Rp18.000/US$.

Apabila menjebol kedua support tersebut, maka rupiah bisa saja melemah lebih lanjut menuju level Rp18.100/US$ sebagai support terkuatnya.

Analisis Teknikal Rupiah Selasa 13 Oktober 2026 (Sumber: Bloomberg)

Namun jika nilai tukar rupiah mampu menguat, maka menarik untuk dicermati area Rp17.870/US$ dan selanjutnya Rp17.850/US$ secara potensial. Lebih lanjut, ada resistance di Rp17.800/US$.

(riset/aji)

No more pages