MSCI dapat mengubah bobot saham, perlakuan terhadap saham tertentu, maupun klasifikasi suatu pasar berdasarkan metodologi indeks yang digunakan. Keputusan tersebut memang berpotensi memengaruhi aliran dana investor, tetapi berbeda dengan pengenaan denda.
“MSCI itu penyedia indeks, bukan regulator atau pengadilan yang bisa mendenda Indonesia. Mereka bisa mengubah bobot, perlakuan saham atau klasifikasi pasar sesuai metodologinya. Dampaknya ke aliran dana bisa besar, tapi itu berbeda dengan denda,” jelas Liza.
Dia juga mempertanyakan dasar spekulasi yang menyebut pemegang saham konglomerasi melepas kepemilikannya karena mengetahui Indonesia akan terkena denda MSCI.
Menurut Liza, penurunan harga saham tidak otomatis menunjukkan bahwa pemegang saham pengendali atau pemegang saham besar sedang melakukan divestasi. Untuk memastikan adanya penjualan oleh pemegang saham besar, investor perlu merujuk pada data transaksi dan laporan perubahan kepemilikan saham.
Apabila terdapat dugaan pelanggaran berupa manipulasi pasar atau perdagangan terkoordinasi, persoalan tersebut perlu ditelaah berdasarkan kewenangan regulator dan bukti yang tersedia, bukan disimpulkan hanya dari pergerakan harga saham.
Aksi Jual Melebar
tekanan jual pada perdagangan hari ini telah meluas ke berbagai saham, termasuk saham-saham berkapitalisasi besar yang menjadi pemberat indeks. Oleh karena itu, koreksi IHSG tidak dapat serta-merta dikaitkan dengan kekhawatiran investor terhadap kebijakan penyedia indeks global tersebut.
“Bayang-bayang MSCI masih ada, kemungkinan freeze berlanjut juga bukan kabar baru. Sejak sebelumnya kami sudah menilai freeze kemungkinan besar masih berlanjut pada review November. Namun, tanpa perkembangan baru yang terkonfirmasi, terlalu jauh kalau seluruh koreksi hari ini dianggap gara-gara MSCI.”
Di sisi lain, investor asing mencatatkan jual bersih atau net sell sebesar Rp166,22 miliar di seluruh pasar pada sesi pertama. Meski demikian, investor asing justru membukukan beli bersih atau net buy sebesar Rp133,23 miliar pada saham GOTO, yang tetap menjadi salah satu pemberat IHSG.
Liza menilai, data tersebut menunjukkan bahwa pelemahan pasar perlu ditelaah dengan melihat pergerakan transaksi pada masing-masing saham, bukan semata-mata menggunakan narasi keluarnya investor asing.
(dhf)
























