Data Bursa Efek Indonesia (BEI) memperhitungkan nilai perdagangan mencapai Rp13,73 triliun dari sejumlah 62,18 miliar saham yang ditransaksikan, dengan frekuensi menyentuh 1,87 juta kali diperjualbelikan. Tercatat hanya ada penguatan 114 saham, dan 602 saham melemah. Sisanya 77 saham stagnan.
Saham–saham energi, saham perindustrian, dan saham infrastruktur big caps menjadi pemberat IHSG, dengan masing–masing minus 5,88%, 5,21% dan 4,71%. Adapun saham transportasi, saham barang baku, dan saham teknologi juga turut melemah pada penutupan perdagangan hari ini.
Saham–saham big caps menjadi pemberat IHSG hingga top losers:
- PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) membebani 15,81 poin
- PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) membebani 12,11 poin
- PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mengurangi 9,16 poin
- PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) membebani 8,68 poin
- PT Bayan Resources Tbk (BYAN) membebani 7,82 poin
- PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA) membebani 6,65 poin
- PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) membebani 5,86 poin
- PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) membebani 5,58 poin
- PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mengurangi 5,57 poin
- PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) mengurangi 5,57 poin
Sejumlah saham unggulan LQ45 lainnya juga menjadi pendorong pelemahan IHSG, saham PT XLSmart Tbk (EXCL) yang turun 9,83%, saham PT Darma Henwa Tbk (DEWA) ambles 9,29%, dan juga saham PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) melemah 8,19%.
Senada, saham PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) drop 6,77%, saham PT Indika Energy Tbk (INDY) melemah 6,45%. Saham PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) terpeleset 5,18% hingga menjadi pemberat IHSG.
Ambrolnya IHSG hari ini turut tergencet isu pengumuman MSCI menyoal ancaman degradasi pasar saham Indonesia menjadi Frontier Market hingga potensi Freeze yang terus berlanjut, mendorong para pelaku pasar untuk mengantisipasi sikap MSCI yang masih abu–abu.
MSCI akan menilai kembali hasil evaluasinya terhadap saham–saham Indonesia menjelang index review November 2026, termasuk kebijakan pembekuan sementara terhadap peningkatan Foreign Inclusion Factors (FIF) dan Number of Shares (NOS), serta penambahan saham ke indeks dan/atau migrasi ke tingkat indeks yang lebih tinggi. Adapun Mirae Asset Sekuritas Indonesia memprediksi pengumuman tersebut akan disampaikan pada akhir Oktober.
Sebelumnya, MSCI juga memperingatkan apabila tidak terdapat kemajuan yang memadai terhadap hal–hal transparansi, pihaknya dapat mempertimbangkan pengurangan bobot Indonesia dalam Indeks atau bahkan memulai konsultasi mengenai reklasifikasi Indonesia dari Emerging Market menjadi Frontier Market.
“Kami memperkirakan MSCI akan memperpanjang pembekuan (freeze) pada November, sembari menunggu bukti bahwa reformasi yang telah dilakukan benar-benar berjalan efektif,” papar Mirae Asset Sekuritas dalam catatan terbarunya, Senin (12/10/2026).
Jika solusi dapat diterapkan dengan cepat, perlakuan khusus tersebut bakal tuntas dalam waktu sekitar satu tahun. Namun, jika penyelesaiannya berjalan lambat atau tidak tercapai, pembekuan dapat berlangsung selama bertahun-tahun atau bahkan berkembang menjadi penurunan klasifikasi (downgrade).
“Kami menilai Semester II–2027 sebagai periode yang lebih realistis, mengingat kecenderungan MSCI untuk mengambil keputusan struktural dalam market classification review pada Juni,” sebut Mirae.
Pandangan pasar masih rentan terhadap pemberitaan MSCI lebih lanjut, terlebih lagi tanpa ancang–ancang adanya downgrade menjadi Frontier Market, perpanjangan freeze akan menunda potensi katalis berupa penambahan saham ke Indeks dan peningkatan bobot Indeks, sehingga visibilitas terhadap arus dana asing masih enggan menopang IHSG.
(fad)


























