Ekonom: Beban Bunga SBN Bisa Bengkak Rp18T Imbas Premi Yield
Sabrina Mulia Rhamadanty
12 October 2026 13:20

Bloomberg Technoz, Jakarta - Ekonom mengingatkan beban bunga Surat Berharga Negara (SBN) berpotensi membengkak hingga Rp18 triliun. Risiko ini dipicu oleh potensi pembengkakan premi yield pada sisa lelang pemerintah hingga akhir tahun.
Peneliti CORE Indonesia Yusuf Rendy Manilet memperkirakan pemerintah kemungkinan perlu memikul premi sekitar 30 hingga 60 basis poin pada 12 lelang reguler yang tersisa, yang mencakup enam kali penerbitan Surat Utang Negara (SUN) dan enam kali Surat Berharga Syariah Negara (SBSN), di samping target pembiayaan pinjaman sebesar US$1,8 miliar hingga akhir tahun.
“Bahkan dalam skenario tekanan berat—khususnya apabila nilai tukar rupiah bertahan di atas level Rp18.000 per dolar AS—tambahan premi tersebut dapat mendekati angka 80 basis poin,” ungkap Yusuf saat dihubungi, Senin (12/10/2026).
Dalam perhitungannya Yusuf mengatakan, apabila pemerintah menerbitkan SBN sebesar Rp250 triliun hingga Rp300 triliun dengan tambahan yield sebesar 50 hingga 60 basis poin, beban bunga APBN akan bertambah sekitar Rp1,5 triliun hingga Rp1,8 triliun per tahun.
“Mengingat rata-rata tenor utang berada di angka 10 tahun, akumulasi tambahan biaya bunga selama masa tenor obligasi diproyeksikan mencapai Rp15 triliun hingga Rp18 triliun,” jelasnya.



























