Logo Bloomberg Technoz

KETAHANAN ENERGI

Hemat Subsidi Solar Rp161 T Berisiko Semu Tanpa Insentif Listrik

Sabrina Mulia Rhamadanty
12 October 2026 12:00

Sebuah truk mengisi bahan bakar Solar di SPBU Pertamina./Bloomberg-Dimas Ardian
Sebuah truk mengisi bahan bakar Solar di SPBU Pertamina./Bloomberg-Dimas Ardian

Bloomberg Technoz, Jakarta – Potensi efisiensi anggaran negara senilai Rp161 triliun melalui pengalihan subsidi bahan bakar minyak (BBM) jenis solar ke sektor kelistrikan dinilai memiliki potensi besar, tetapi juga menyimpan risiko kegagalan yang tak kalah signifikan. 

Energy Shift Institute mencatat penghematan subsidi akan menjadi angka semu jika pemerintah tidak mengimbanginya dengan peta jalan (roadmap) insentif kelistrikan yang jelas, terukur, dan berkesinambungan.

Direktur Pelaksana Energy Shift Institute Putra Adhiguna menekankan angka potensi efisiensi sebesar Rp161 triliun tersebut bukanlah kalkulasi yang berdiri sendiri.


Angka fantastis itu merupakan akumulasi dari pengurangan beban subsidi solar yang selama ini menyedot anggaran negara dalam jumlah sangat besar setiap tahunnya.

"Potensi hemat subsidi solar sebesar Rp161 triliun akan menjadi angka semu jika tidak ada peta jalan insentif kelistrikan yang komprehensif. Pengalihan dari energi berbasis fosil cair ke listrik memerlukan kesiapan infrastruktur dan kepastian skema keekonomian bagi seluruh pemangku kepentingan," ujar Putra Adhiguna saat dihubungi Bloomberg Technoz, Senin (12/10/2026). 

Truk-truk mengisi solar di SPBU. (Bloomberg)