Logo Bloomberg Technoz

Rute Penerbangan Banyak Ditutup, Maskapai Hadapi Masa Berat

Bloomberg Businessweek Indonesia
12 October 2026 11:35

Calon penumpang berjalan menuju ruang tunggu keberangkatan saat arus mudik di Bandara Soekarno-Hatta, Rabu (18/3/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean K)
Calon penumpang berjalan menuju ruang tunggu keberangkatan saat arus mudik di Bandara Soekarno-Hatta, Rabu (18/3/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean K)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Sejumlah maskapai penerbangan mengumumkan penutupan layanan untuk rute yang terbilang padat seperti rute Jakarta-Singapura dan rute lain yang populer, di tengah lonjakan harga bahan bakar avtur yang terus melesat akibat kenaikan harga minyak dunia sepanjang tahun ini. Di Tanah Air, maskapai Air Asia memutuskan penutupan enam rute penerbangan domestik maupun internasional sepanjang Januari hingga Agustus lalu termasuk rute populer Jakarta-Singapura.

Sementara maskapai Jetstar Asia malah resmi menghentikan operasionalnya, sedangkan Cebu Pacific Air Filipina menangguhkan sejumlah rute penerbangannya tahun ini. Begitu pula AirAsia X yang menutup dua rute internasionalnya seperti Kuala Lumpur–Chongqing dan Kuala Lumpur–Sydney pada tahun ini.

Penutupan rute Jakarta-Singapura oleh AirAsia cukup mengejutkan. Pasalnya, rute penerbangan langsung ke Singapura sebenarnya cukup sibuk yang dipadati oleh banyak maskapai. Data OAG Aviation menunjukkan, ada sekitar tujuh maskapai yang melayani penerbangan langsung di rute itu sampai data Juni. Ada apa di balik kebijakan sejumlah maskapai menutup rute penerbangan mereka?

Alvin Lie, pengamat industri penerbangan Indonesia menilai, kondisi yang dialami AirAsia dan strategi yang mereka tempuh, mencerminkan ada persoalan yang lebih besar di industri penerbangan Indonesia. Maskapai di tanah air saat ini tengah berhadapan dengan biaya yang terus naik ketika ruang untuk mengerek harga tiket tidak selalu tersedia. Apalagi saat ini kondisi daya beli masyarakat Indonesia, terutama kelas menengah, juga tengah kurang baik-baik saja.  


“Avtur mahal, rupiah melemah, sementara sewa pesawat, suku cadang, perawatan dan pembiayaan armada mayoritas dibayar menggunakan dolar AS. Maskapai harus menjaga harga agar tetap terjangkau bagi penumpang, tetapi pada saat yang sama harus memastikan pesawat yang diterbangkan tidak terus menghasilkan kerugian,” katanya. 

Lantas, seberapa parah situasi yang dihadapi perusahaan maskapai penerbangan saat ini ketika dihimpit biaya avtur nan mahal serta daya beli masyarakat yang tengah menghadapi tantangan pelemahan? Apakah strategi penutupan rute populer juga penyesuaian jadwal di sejumlah rute akan bisa membawa maskapai keluar dari cengkeraman masalah tersebut? Simak laporan dan analisis selengkapnya di Bloomberg Businessweek Indonesia Edisi Oktober 2026.