Logo Bloomberg Technoz

Secara statistik, volatilitas harian WTI melonjak drastis dari sekitar 31% per tahun pada 2025 menjadi kisaran 65% pada 2026.

Barel minyak mentah WTI sempat menyentuh rekor tinggi US$114,58 pada 7 April 2026 dan mencatat rata-rata US$97,31/barel pada September 2026.

Laporan Short-Term Energy Outlook dari EIA edisi Oktober 2026 memperkirakan reli harga minyak saat ini tidak akan bertahan lama.

Di sisi lain, EIA memproyeksikan rata-rata harga WTI berada di angka US$79,74/barel pada 2027, sebelum merosot ke kisaran US$69,94/barel pada kuartal IV-2027.

“Sikap hati-hati juga ditunjukkan oleh para pelaku industri migas global dalam merencanakan belanja modal,” tambahnya.

Berdasarkan survei Dallas Fed, sebagian besar pelaku industri memilih menyusun anggaran operasinya pada kuisaran harga minyak yang jauh lebih konservatif, yakni US$65—US$70/barel.

Sikap Konservatif

Sikap konservatif para pelaku industri tersebut mempertegas bahwa profitabilitas tinggi yang diraih saat ini sebagian besar bersifat sementara.

Ketika tensi geopolitik mereda dan pasokan global melembut, margin (laba bruto) sektor hulu migas diperkirakan kembali tertekan.

Kendati dibayangi risiko penurunan harga pada masa depan, Yayan menilai struktur transaksi yang dipilih Danantara memiliki sejumlah keunggulan protektif.

Bentuk instrumen serta fleksibilitas operasional minyak serpih memberikan nilai tambah tersendiri bagi investor.

"Ada dua sisi positif. Pertama, bentuk saham preferen memberi bantalan: dividen tetap dan hak jual kembali lebih aman daripada saham biasa saat harga turun. Kedua, produksi minyak serpih bisa ditunda atau dipercepat lebih lentur daripada lapangan konvensional," tutur Yayan.

Karakteristik minyak serpih (shale oil) memang memungkinkan produsen untuk menyesuaikan tingkat produksi secara lebih cepat dibanding proyek migas lepas pantai atau konvensional.

Fleksibilitas ini memberi ruang gerak bagi Danantara untuk merespons fluktuasi harga pasar secara efisien.

Namun, sifat fleksibel dari industri minyak serpih AS ini justru menjadi pedang bermata dua bagi stabilitas harga minyak dunia.

Kemudahan dalam meningkatkan kapasitas produksi saat harga tinggi berpotensi memicu kondisi ketersediaan pasokan yang berlebih (oversupply). Mengenai ancaman pasokan berlebih tersebut, Yayan memberikan catatan kritisnya.

"Sisi negatifnya, pasokan serpih AS cepat bertambah saat harga tinggi, sehingga lonjakan harga jarang bertahan lama," terang Yayan.

Kondisi pasokan yang berlimpah membatasi durasi lonjakan harga minyak di pasar global. Tak ayal, ekspektasi terhadap margin jumbo (windfall profit) dari aset serpih cenderung memendek seiring dengan cepatnya respons produksi dari para kompetitor di AS.

Selain tantangan siklus pendek, investasi hulu migas juga dihadapkan pada tren transisi energi jangka panjang. 

Berdasarkan proyeksi BP Energy Outlook 2025, permintaan minyak dunia diperkirakan memuncak sekitar 103,4 juta barel per hari (bph) pada 2030 sebelum memasuki fase penurunan bertahap, sehingga Danantara dituntut cermat mengelola portofolionya.

Sebelumnya, BPI Danantara melalui PT Danantara Investment Management (DIM) melakukan investasi senilai US$250 juta atau sekitar Rp4,47 triliun di perusahaan minyak dan gas (migas) di Permian Basin (Cekungan Permian), HighPeak Energy, Inc.

HighPeak merupakan perusahaan migas yang berbasis di Texas yang bergerak di bidang akuisisi, pengembangan, eksplorasi, serta eksploitasi migas di Cekungan Permian. 

Dengan investasi tersebut, DIM memiliki akses ke portofolio aset yang didominasi minyak mentah di Cekungan Permian.

HighPeak nantinya bakal menggunakan investasi tersebut untuk memperkuat modal hingga mendukung pengembangan aset.

Chief Executive Officer DIM Pandu Sjahrir mengungkapkan DIM mendapatkan perlindungan terhadap penurunan nilai investasi, serta nantinya bisa mendapatkan kenaikan nilai ekuitas HighPeak melalui konversi investasi menjadi saham biasa.

Selain itu, Pandu menyatakan DIM memiliki opsi untuk mengikuti penawaran saham HighPeak berikutnya melalui skema private placement.

Kemudian, DIM bakal menempatkan satu perwakilan di jajaran direksi perusahaan.

“Posisi strategis HighPeak di salah satu pasar hulu minyak dan gas bumi paling maju di dunia menjadikannya peluang investasi yang potensial seiring dengan upaya kami membangun platform investasi yang terdiversifikasi secara global,” kata Pandu melalui keterangan tertulis, Selasa (6/10/2026).

Berdasarkan data Badan Informasi Energi AS (EIA), Cekungan Permian merupakan wilayah penghasil minyak mentah di AS yang menyumbang 48% dari total produksi minyak mentah AS sepanjang 2025.

EIA mencatat sejak 2007 pertumbuhan produksi di wilayah Cekungan Permian didorong penerapan teknik horizontal dan rekahan hidrolik atau hydraulic fracturing (fracking). 

Berdasarkan catatan penyedia data Enverus, produksi migas di Cekungan Permian dimulai pada 1920-an dan mencapai puncaknya pada 1970-an. Memasuki 2000-an, teknologi pengeboran horizontal dan hydraulic fracturing mulai diterapkan.

Saat ini, pengembangan Cekungan Permian terutama dilakukan melalui sumur horizontal nonkonvensional yang menargetkan sejumlah formasi yang tersusun secara vertikal dari satu lokasi permukaan yang sama.

Secara umum, Cekungan Permian terbagi menjadi tiga wilayah utama yakni Delaware Basin di bagian barat, Midland Basin di bagian timur, dan Central Basin Platform yang memisahkan kedua wilayah tersebut.

Enverus mencatat Cekungan Permian bukan satu struktur yang seragam, melainkan sistem kompleks yang terdiri atas sejumlah subcekungan yang terbentuk akibat perbedaan penurunan permukaan dan aktivitas tektonik.

Terdapat sejumlah operator yang melakukan aktivitas di Cekungan Permian, antara lain; Chevron, ExxonMobil, ConocoPhillips, Diamondback, Occidental, EOG, Mewbourne Oil, Permian Resources, Devon, SM Energy, hingga Coterra Energy.

-- Dengan asistensi Sabrina Mulia Rhamadanty

(red/wdh)

No more pages