Sementara itu, dalam menyusun rancangan Perpres ini, Evita bilang turut melibatkan koordinasi antarlembaga mulai dari Kementerian Perhubungan (Kemenhub), Badan Pengaturan (BP) BUMN, dan Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara.
"Harapannya, Perpres ini akan menjadi landasan hukum yang jelas termasuk pembagian peran masing-masing pihak hak dan kewajiban yang melekat."
"Sehingga pada saat nanti proses pengalihan PSBI ini berjalan, itu akan dilanjutkan dengan pengelolaan yang baik, prudent, efektif terintegrasi akuntabel sesuai dengan ketentuan dan keberlanjutan kereta cepat Jakarta-Bandung akan lebih berjalan dengan terjamin lagi," pungkasnya.
Sebelumnya, Wakil Menteri Keuangan Juda Agung mengatakan bahwa proses pengalihan utang Whoosh tersebut masih dalam tahap kajian.
Saat ini pihaknya tengah melakukan pembahasan dan uji tuntas atau due diligence untuk mencari skema penyelesaian yang tepat. Padahal sebelumnya dikabarkan bahwa Kemenkeu dan Danantara akan melakukan seremonial pengalihan utang Whoosh dari Danantara pada medio September lalu.
"Yang penting kan jangan sampai Whoosh Ini berhenti, servisnya, pelayanan dari Whoosh ini terus jalan, tapi beban fiskalnya juga bisa di-minimize," kata Juda dalam Media Gathering Kemenkeu di Bogor, Jawa Barat, Kamis (1/10/2026).
Sebab, menurut Juda, masih terdapat sejumlah aspek teknis yang perlu dipastikan dalam proses due diligence tersebut.
"Intinya seperti itu. Ini tentu masih banyak hal-hal teknisnya yang perlu dilakukan, dipastikan, dan tadi due diligence terus dilakukan," terangnya.
Sekedar catatan, kepemilikan negara di proyek Whoosh sendiri dipegang oleh PT PSBI, perusahaan konsorsium perusahaan BUMN antara lain PT KAI, PT Wijaya Karya Tbk (WIKA), dan PT Jasa Marga Tbk (JSMR). KAI memegang porsi terbesar dengan menggenggam sekitar 58,3% porsi saham PSBI.
Total nilai investasi proyek ini mencapai US$7,2 miliar, termasuk pembengkakan biaya atau cost overrun sekitar US$1,2 miliar.
Proyek dibiayai melalui skema 75% pinjaman dari China Development Bank (CDB) dan 25% setoran modal pemegang saham, yakni 60% via PSBI dan 40% lainnya berasal dari perusahaan China, Beijing Yawan HSR Co Ltd.
(prc/ros)
































