Logo Bloomberg Technoz

Lagipula, kata Yayan, hak atas minyak tersebut tidak serta-merta dialirkan ke Tanah Air karena seluruh hasil produksi HighPeak dijual di pasar lokal Texas.

Kilang Pertamina pada dasarnya tetap bisa membeli minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) dari pasar bebas tanpa harus memiliki ladang minyaknya, sebagaimana realisasi impor WTI Indonesia yang sudah mencapai sekitar 15.000 bph pada 2025.

Kondisi ini sejalan dengan studi Badan Energi Internasional (IEA), terkait dengan ekspansi perusahaan minyak China, yang menyimpulkan bahwa kepemilikan saham di ladang minyak luar negeri lebih berfungsi menambah pasokan global alih-alih mengamankan pasokan secara fisik ke negara asal.

“Jadi sebenarnya langkah ini lebih erat kaitannya dengan komitmen diplomasi ekonomi antarnegara,” tambah dia.

Yayan menambahkan investasi Danantara tersebut ditengarai menjadi bagian dari realisasi Perjanjian Dagang Indonesia–AS pada 19 Februari 2026 yang mencakup komitmen investasi Indonesia di AS sebesar US$33 miliar, termasuk di sektor energi. 

“Meskipun dokumen transaksi tidak secara eksplisit mencantumkan keterkaitannya, nilai strategis akuisisi ini dinilai lebih dominan dalam memperkuat hubungan perdagangan bilateral ketimbang menambal pasokan minyak nasional,” ungkapnya.

Untuk diketahui, HighPeak Energy (NASDAQ: HPK) merupakan perusahaan eksplorasi dan produksi migas yang beroperasi sepenuhnya di Cekungan Permian.

Seluruh fokus operasi hulu perusahaan ini terkonsentrasi di area Midland Basin, salah satu sub-cekungan paling produktif di Texas Barat, khususnya di Howard County dan Borden County.

Berdasarkan laporan keuangan resmi dan literatur luar negeri terbaru untuk kuartal kedua 2026, HighPeak Energy mencatatkan rata-rata produksi harian mencapai sekitar 45.500 barel setara minyak per hari.

Komposisi produksinya didominasi oleh minyak mentah cair sebesar 66% hingga 70% atau setara 30.000 hingga 32.000 boh, sementara sisa 30% hingga 34% berasal dari cairan gas alam dan gas alam.

Saat ini, perusahaan mengelola lebih dari 140.000 hektare lahan bersih (net acres) di Midland Basin dengan total cadangan minyak dan gas terbukti  mencapai sekitar 173,9 juta barel setara minyak.

Sebelumnya, Danantara melalui holding investasinya, PT Danantara Investment Management (DIM), menggelontorkan investasi senilai US$250 juta atau sekira Rp4,47 triliun ke HighPeak asal Amerika Serikat.

Perusahaan bergerak di bidang akuisisi, pengembangan, eksplorasi, serta eksploitasi minyak dan gas bumi (migas) di Permian Basin.

Transaksi investasi ini dilakukan melalui penerbitan saham preferen konvertibel dalam beberapa tahap.

CEO DIM Pandu Sjahrir menjelaskan posisi strategis HighPeak di salah satu pasar hulu migas paling maju di dunia menjadikannya peluang investasi potensial seiring dengan upaya DIM membangun platform investasi yang terdiversifikasi secara global.

"Investasi ini sejalan dengan mandat kami untuk berinvestasi di sektor strategis yang memberikan imbal hasil berkelanjutan dalam jangka panjang sekaligus mendukung kepentingan nasional Indonesia," katanya dalam keterangan tertulis, dikutip Rabu (7/10/2026).

"HighPeak mengoperasikan portofolio aset berskala besar yang didominasi minyak di Permian Basin. Kami percaya kerja sama dengan DIM akan mengakselerasi pengembangan aset tersebut melalui investasi berkelanjutan, termasuk perluasan program pengeboran," ungkap Presiden dan CEO HighPeak Michael Hollis.

Dijelaskan bahwa investasi ini memberi DIM akses strategis terhadap portofolio aset yang didominasi minyak di Permian Basin, wilayah penghasil minyak terbesar di AS. Melalui investasi ini, DIM memperluas portofolio energi Indonesia di skala global, sejalan dengan misinya untuk berinvestasi di sektor-sektor strategis bagi Indonesia.

HighPeak akan menggunakan investasi tersebut untuk memperkuat struktur permodalan dan fleksibilitas keuangan perusahaan, guna mendukung pengembangan dan pertumbuhan portofolio aset berkualitasnya secara berkelanjutan.

Menurut Badan Informasi Energi Amerika Serikat (U.S. Energy Information Administration), Permian Basin merupakan wilayah penghasil minyak mentah terbesar di AS, yang menyumbang sebesar 48% dari total produksi AS selama 2025.

Sejak 2007, pertumbuhan produksi di wilayah ini didorong utamanya oleh penerapan teknik pengeboran horizontal dan rekahan hidrolik atau fracking (hydraulic fracturing).

Apabila kondisi reservoir mendukung, teknik-teknik ini juga bisa diterapkan di lapangan migas darat yang telah matang untuk meningkatkan produktivitas sumur dan perolehan migas, sehingga dapat menjadi model yang relevan bagi Indonesia dalam meningkatkan produksi migas domestik.

Setelah transaksi diselesaikan, HighPeak akan mengembangkan program pelatihan dan penugasan kerja (secondment) bagi tenaga kerja Indonesia, untuk mendukung pengembangan kapabilitas dan pertukaran keahlian teknis.

Berdasarkan ketentuan investasi, DIM akan memperoleh perlindungan terhadap penurunan nilai investasi, dengan kesempatan untuk memperoleh manfaat dari kenaikan nilai ekuitas di masa mendatang melalui konversi menjadi saham biasa serta memiliki opsi untuk berpartisipasi dalam penawaran saham HighPeak berikutnya melalui penempatan terbatas (private placement).

DIM juga akan menempatkan satu perwakilan di jajaran direksi HighPeak.

(smr/wdh)

No more pages