Pada 2030, produksi nikel global diproyeksikan mencapai 5,01 juta mt, sementara konsumsi mencapai 5,03 juta mt.
“Dalam jangka panjang, kami memiliki prospek harga nikel yang lebih optimistis karena surplus pasar menyempit di tengah pertumbuhan permintaan yang kuat, didukung oleh ekspansi sektor baja tahan karat dan percepatan transisi energi bersih,” tulis BMI dalam riset terbarunya, dikutip Jumat (9/10/2026).
BMI memperkirakan peningkatan konsumsi logam nikel global bakal meningkat dalam jangka panjang, didukung oleh ekspansi sektor baja nirkarat dan percepatan transisi energi bersih.
BMI menyebut teknologi energi bersih, termasuk kendaraan listrik, sistem energi terbarukan, sistem penyimpanan energi baterai, dan komponen turbin angin, akan memberikan potensi kenaikan terhadap permintaan nikel.
Pada 2026 saja, konsumsi nikel global diproyeksikan tumbuh 4,7% secara tahunan menjadi 3,77 juta mt, dengan produksi baja nirkarat (stainless steel) menjadi penopang utama permintaan. Produksi baja nirkarat global juga tumbuh 5% secara tahunan pada semester I-2026.
Meski demikian, pertumbuhan permintaan nikel untuk baterai menghadapi tantangan dari semakin luasnya penggunaan baterai lithium ferro phosphate (LFP).
BMI mencatat penggunaan LFP di China mencakup 81,2% penjualan baterai EV pada 2025, dari 67,3% pada 2023. Dalam kaitan itu, BMI mencatat pada Agustus 2026 porsi baterai LFP di China mencapai 85,6% dari total baterai kendaraan listrik.
Harga Tinggi
Dengan pasar yang mulai beralih dari surplus menuju defisit, BMI memperkirakan harga nikel bergerak lebih tinggi dalam jangka panjang.
Harga rata-rata diproyeksikan mencapai US$19.000/mt pada 2030, naik dari US$17.000/mt pada 2026. Harga kemudian diperkirakan meningkat menjadi US$21.500/mt pada 2031 dan kembali meningkat menjadi US22.000/mt pada 2032.
Adapun, Indef Green Transition Initiative (GTI) memprediksi kondisi kelebihan pasok atau oversupply nikel dunia tidak akan membaik secara signifikan usai Indonesia memastikan tidak akan merevisi kuota produksi dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 secara besar-besaran.
Head of Industrial and Transport Decarbonization Indef GTI Andry Satrio Nugroho menyatakan klaim pemangkasan RKAB yang dapat memotong 30% pasokan bijih dunia rupanya hanya bakal mengurangi pasokan nikel primer global sebesar 4%.
Andry memprediksi pasokan nikel global bakal berkurang gegara kebijakan tersebut dari 3,88 juta mt pada 2025 menjadi 3,71 juta mt pada 2026. Dengan begitu, defisit pasokan yang tercipta hanya 32.000 mt atau 0,85% dari konsumsi dunia.
Kendati begitu, Andy menegaskan kondisi tersebut harus dibandingkan dengan stok atau inventori bursa logam global yakni London Metal Exchange (LME) dan Shanghai Futures Exchange (SHFE).
Andry mencatat gabungan inventori logam nikel di LME dan SHFE mencapai sekitar 468.000 mt pada pertengahan 2026, sekitar 6,5 pekan konsumsi global sebanyak 72.058 mt per pekan.
Lalu, kondisi tersebut lebih besar 14,6 kali dibandingkan dengan defisit tahunan.
Sekadar informasi, kuota kumulatif produksi bijih nikel dalam RKAB tahun ini berada di rentang 260 juta mt sampai 270 juta mt, terpelanting dari realisasi produksi tahun lalu sebanyak 320 juta mt.
Adapun, nikel dilego di harga US15.735pertondiLMEhariini,naiktipis0,34%daripenutupanharisebelumnya.HarganikelsempatmencapairekordiatasUS100.000 per ton pada Maret 2022 akibat short squeeze pasar, tetapi sejak itu harga menurun tajam.
Adapun, nikel dilego di harga US$15.553/mt di LME hari ini,turun 1,16% dari penutupan hari sebelumnya. Harga nikel sempat mencapai rekor di atas US$100.000/mt pada Maret 2022 akibat short squeeze pasar, tetapi sejak itu harga menurun tajam.
Gejala ambruknya harga nikel sudah terdeteksi sejak 2023. Rerata harga saat itu berada di angka US$21.688/mt atau terjun bebas 15,3% dari tahun sebelumnya US25.618/mt.
Kemerosotan itu dipicu oleh pasar yang terlalu jenuh ditambah dengan lesunya permintaan.
(azr/wdh)































