Dia menyatakan investor tersebut ada yang berasal dari Glencore, Trafigura, hingga perusahaan Australia dan India.
Rosan menyatakan IWIP menyumbang investasi sekitar US$20 miliar sejak 2018, dengan tambahan investasi US$7 miliar sehingga totalnya bakal mencapai US$27 miliar.
Di sisi lain, terdapat 117.000 tenaga kerja yang bekerja di kawasan tersebut, dengan nilai ekspor dari IWIP diklaim mencapai US$11 miliar.
“Selama ini, ekspor yang terjadi kawasan ini US$11miliar. Kalau digabungkan dengan kawasan IMIP yang pertama dibangun oleh Tsingshan itu total ekspornya mencapai US$28 miliar atau 10% dari total ekspor Indonesia,” tutur Rosan.
Dalam kesempatan itu, Presiden Prabowo Subianto meresmikan langsung proyek hilirisasi senilai US$10,2 miliar atau setara Rp180 triliun, dari total tersebut sekitar 3 proyek diresmikan operasi komersial, 1 proyek diresmikan ekspor perdana, dan 7 proyek lainnya dilakukan groundbreaking.
Rosan menjelaskan total nilai investasi dari 3 proyek yang beroperasi komersial perdana dan 1 perusahaan yang mengekspor bahan baku baterai perdana mencapai US$3,4 miliar atau sekitar Rp60 triliun.
Selain itu, Rosan menjelaskan terdapat peletakan batu pertama untuk 7 proyek dengan nilai investasi sekitar US$6,8 miliar.
Dia menjelaskan sejumlah proyek yang dilakukan groundbreaking adalah produk olahan nikel, komponen baterai EV, aluminium elektrolit, pabrik photovoltaic glass (PV) atau panel surya, hingga proyek truk listrik untuk pertambangan.
Adapun ,proyek yang melakukan ekspor perdana meliputi bahan baku baterai berupa nickel manganese cobalt (NMC) dan lithium ferro phosphate (LFP) dari PT REPT Batero Indonesia.
Sementara itu, proyek yang telah memasuki operasi komersial yakni pabrik mixed hydroxide precipitate (MHP) dari PT Blue Sparking Energy, smelter aluminium elektrolitik dari PT Pioneer Aluminium Industries, serta pabrik komponen alat berat berbasis EV dari PT XCMG Indonesia Manufacturing.
Selain itu, terdapat tujuh proyek yang melakukan peletakan batu pertama, yakni PT Guang Ching Nickel Cobalt, PT Inno Prima Material, PT Tinci Materials Indonesia, PT Weda Bay Aluminium, PT Bintang Karya Aluminium, PT Flat Solar Energy Indonesia, dan PT Foton Guangqing Motor Indonesia.
IWIP memiliki luas sekitar 3.000 hektare dan dilengkapi dengan sejumlah fasilitas pendukung industri, mulai dari pembangkit listrik hingga pelabuhan.
Selain pengolahan nikel untuk kebutuhan industri baja nirkarat, kawasan ini juga terus dikembangkan untuk masuk ke rantai pasok baterai kendaraan listrik.
IWIP tercatat dimiliki tiga perusahaan asal China, yakni Tsingshan Holding Group (40%), Huayou Holding Group (30%), dan Zhenshi Holding Group Co., Ltd (30%).
Adapun, kawasan industri Morowali berada di atas lahan seluas 2.000 ha dan menjadi pusat aktivitas industri besar dengan 28 perusahaan yang telah beroperasi serta 14 perusahaan dalam tahap konstruksi.
IMIP — yang dimiliki oleh raksasa logam China, Tsingshan Holding Group Co, dan penambang lokal Bintang Delapan Group — merupakan hasil dari investasi senilai lebih dari US$30 miliar.
(azr/wdh)




























