Keterbatasan Air
Selain persoalan bahan baku, smelter Indonesia diprediksi bakal menghadapi risiko operasional akibat keterbatasan air yang berkaitan dengan kondisi El Niño.
BMI mencatat sejumlah smelter di sentra nikel Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) mengurangi produksi akibat kekurangan air, yang disebut-sebut berdampak terhadap penurunan sekitar 100.000 ton produksi besi kasar nikel atau nickel pig iron (NPI).
BMI juga mencatat kekurangan air membatasi peningkatan kapasitas proyek HPAL Excelsior Nickel Cobalt milik Nickel Industries.
Jika kondisi kering berlanjut, fasilitas tersebut diperkirakan hanya dapat beroperasi sekitar 30% dari kapasitas terpasang.
Selain itu, smelter nikel pirometalurgi berbasis rotary kiln electric furnace (RKEF) milik PT Bumi Mineral Sulawesi tercatat telah mengurangi kapasitas produksi karena keterbatasan ketersediaan air mengganggu pasokan listrik.
“Namun demikian, pelonggaran pembatasan pasokan Indonesia melalui pemberian kuota tambahan pada kuartal III-2026 dan revisi formula harga HPM yang berlaku mulai September 2026 telah mengurangi sebagian tekanan bahan baku dan biaya operasional, sementara tanda-tanda membaiknya ketersediaan sulfur telah memberikan bantuan lebih lanjut,” tegas BMI.
Tekanan Permintaan
Di sisi lain, tekanan juga datang dari permintaan. BMI menyatakan adopsi baterai LFP yang makin cepat mengurangi intensitas penggunaan nikel dalam baterai kendaraan listrik, khususnya di China.
BMI mencatat LFP telah mencakup 81,2% penjualan baterai EV di China pada 2025, naik dari 67,3% pada 2023. Bahkan pada Agustus 2026, LFP mencapai 85,6% dari total pemasangan baterai kendaraan listrik di China.
“Meskipun meningkatnya adopsi LFP tetap menjadi risiko penurunan utama terhadap proyeksi permintaan nikel, baterai kimia yang intensif menggunakan nikel akan tetap memiliki peran penting. Penggunaannya diperkirakan akan sangat tangguh bagi produsen baterai di luar China, terutama di Amerika Utara dan Eropa,” ungkap BMI.
Secara umum, BMI mempertahankan proyeksi rata-rata harga nikel sepanjang 2026 sebesar US$17.000/metrik ton, seiring dengan pasar nikel global yang masih mencatat surplus meski keseimbangan pasokan dan permintaan mulai mengetat.
BMI meramal surplus pasar nikel diperkirakan menyusut menjadi 75.500 metrik ton pada 2026, dari 284.000 metrik ton pada 2025.
BMI menilai kondisi pasar yang semakin seimbang tersebut masih belum cukup untuk membawa nikel ke posisi defisit.
Produksi nikel olahan global diproyeksikan turun 1% secara tahunan menjadi 3,84 juta metrik ton pada 2026 akibat ketidakpastian kebijakan Indonesia dan mengetatnya ketersediaan bijih.
Sementara itu, konsumsi nikel global diperkirakan tumbuh 4,7% secara tahunan menjadi 3,77 juta metrik ton pada 2026. Pertumbuhan permintaan terutama ditopang oleh produksi baja nirkarat atau stainless steel yang masih menjadi penyangga utama konsumsi nikel.
Dari sisi persediaan, gabungan stok on-warrant di London Metal Exchange (LME) dan Shanghai Futures Exchange (SHFE) mencapai 349.000 metrik ton per 30 September 2026, naik 24,6% sejak awal tahun.
“Sementara kelebihan pasokan di pasar yang masih terlihat dan tingkat persediaan yang tinggi terus menekan momentum kenaikan harga yang sempat mendominasi pada awal tahun ini,” tegas BMI.
Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) mencatat realisasi serapan bijih nikel sepanjang Januari—Juni mencapai 120,6 juta metrik ton atau setara 46,2% dari kuota produksi dalam RKAB 2026 sejumlah 260—270 juta metrik ton.
Sekretaris Jenderal APNI Meidy Katrin Lengkey sebelumnya mencatat saat ini terdapat 422 izin usaha pertambangan (IUP) nikel aktif yang memasok 79 fasilitas pengolahan dan pemurnian atau smelter.
Dia menjelaskan 79 smelter tersebut terdiri atas 55 fasilitas pirometalurgi berteknologi RKEF, 10 pabrik hidrometalurgi berbasis HPAL, 10 penghasil nickel matte, dan 6 smelter baja nirkarat terintegrasi.
Dia mencatat kebutuhan bijih nikel 79 smelter tersebut—jika beroperasi pada kapasitas penuh — dapat mencapai 415 juta metrik ton per tahun.
“Hingga Juni 2026, konsumsi bijih domestik tercatat sekitar 120,06 juta ton, atau kurang lebih 46,2% dari kuota yang disetujui. Sementara itu, kebutuhan 79 fasilitas hilirisasi apabila seluruhnya beroperasi pada kapasitas penuh diperkirakan dapat mencapai sekitar 415 juta ton per tahun,” kata Meidy melalui keterangan tertulis, Senin (20/7/2026).
Adapun, nikel dilego di harga US$15.735/metrik tondi LME hari ini, naik tipis 0,34% dari penutupan hari sebelumnya.
Harga nikel sempat mencapai rekor di atas US$100.000/metrik ton pada Maret 2022 akibat short squeeze pasar, tetapi sejak itu harga menurun tajam.
(azr/wdh)





























