"Indonesia memiliki iklim tropis lembap yang menguntungkan kutu sebagai vektor yang efisien. Selain itu, populasi tikus kita tinggi, terutama di permukiman padat, pasar, dan lahan pertanian yang meningkatkan kontak tikus dengan manusia," jelasnya.
Menurut Dicky, persoalan sanitasi dan pengelolaan sampah, khususnya di wilayah perkotaan padat dan permukiman kumuh, juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan. Pelabuhan dan bandara dengan lalu lintas barang maupun orang juga perlu menjadi perhatian sebagai titik masuk.
Di sisi lain, Indonesia memiliki sejumlah wilayah yang memiliki riwayat fokus alami pes. Kondisi tersebut membuat penguatan deteksi dan pengawasan tetap diperlukan meskipun kasus pes pada manusia saat ini tergolong jarang.
"Pes ini sangat jarang sehingga tenaga kesehatan, termasuk dokter, bisa terlambat mengenalinya. Padahal, kecepatan mendeteksi ini menjadi hal yang menentukan hidup-mati pasien," kata Dicky.
Dicky mengatakan kapasitas laboratorium untuk melakukan konfirmasi serta kesiapan antibiotik juga perlu diperkuat. Hal tersebut penting karena pes dapat menjadi penyakit yang serius apabila terlambat dikenali dan ditangani.
Gejala yang Perlu Diwaspadai
Dicky mengatakan masyarakat dan tenaga kesehatan perlu mewaspadai munculnya klaster demam akut yang disertai pembesaran kelenjar getah bening yang nyeri. Pneumonia berat yang memburuk dengan cepat juga perlu menjadi perhatian, terutama apabila terdapat riwayat perjalanan atau kontak dengan tikus maupun kutu.
Kematian tikus secara mendadak di sekitar permukiman juga dapat menjadi salah satu tanda yang perlu diperhatikan, termasuk di kawasan pelabuhan.
"Yang perlu diwaspadai sebenarnya adalah adanya klaster demam akut dengan pembesaran kelenjar getah bening yang nyeri atau pneumonia berat yang cepat memburuk, terutama dengan riwayat perjalanan atau kontak tikus atau kutu, atau kematian tikus mendadak di sekitar permukiman, termasuk di pelabuhan," ujarnya.
Menurut Dicky, pengawasan atau surveillance juga tidak cukup hanya dilakukan terhadap manusia. Pengawasan terhadap populasi tikus dan kutu di wilayah yang memiliki riwayat pes juga perlu dilakukan.
Pernah Jadi Wabah Besar di Indonesia
Dicky mengingatkan bahwa pes bukan penyakit yang sama sekali asing bagi Indonesia. Penyakit tersebut pernah menjadi masalah besar pada masa Hindia Belanda.
Pes pertama kali tercatat di Jawa sekitar 1910–1911, terutama di wilayah Malang. Penyebaran penyakit tersebut saat itu dikaitkan dengan beras impor. Pada 1930-an, pes kemudian menyebar ke Jawa Tengah dan Jawa Barat dan menyebabkan ratusan ribu kematian di Jawa.
"Pes pernah menjadi masalah besar di Indonesia dulu di Hindia Belanda. Itu terjadi pada 1910-1911, pertama kali tercatat di Jawa terutama di Malang dan lewat beras impor itu kemudian juga," kata Dicky.
Menurutnya, fokus alami pes kemudian menetap di sejumlah wilayah dataran tinggi Jawa, antara lain Boyolali, kawasan Malang, Pasuruan, dan Tengger. Di wilayah tersebut terdapat siklus pes pada tikus dan kutu setempat.
Kasus sporadis juga masih pernah dilaporkan pada periode setelahnya, terutama di Boyolali. Dicky menyebut kasus terakhir yang perlu diperhatikan terjadi sekitar 2007.
"Ini yang perlu mungkin kita tingkatkan, kemampuan deteksi kita, surveillance ini," ujarnya.
Dicky menekankan bahwa status bebas pes tidak serta-merta berarti fokus alami penyakit tersebut telah hilang. Menurut dia, terdapat bukti serologis mengenai keberadaan antibodi pada tikus di sejumlah wilayah yang memiliki riwayat pes.
Karena itu, pes tetap perlu diwaspadai meskipun penyakit tersebut saat ini jarang ditemukan pada manusia. Tingkat keparahan penyakit serta kemungkinan penularan antarmanusia pada pes pneumonik menjadi alasan pentingnya deteksi dini.
"Satu kasus yang terlambat dikenali bisa memicu klaster, termasuk di fasilitas kesehatan," kata Dicky.
Kasus Suspek Pes di Siberia
Kasus suspek pes pneumonik di Siberia kembali menyoroti penyakit tersebut setelah seorang pekerja muda di lembaga Rusia yang meneliti pes dan infeksi berbahaya lainnya meninggal dunia akibat pneumonia parah.
Seorang pekerja laboratorium berusia 28 tahun di Irkutsk Anti-Plague Research Institute of Siberia and the Far East meninggal pada malam antara 1 dan 2 Oktober setelah mengalami pneumonia parah.
Otoritas Rusia belum mengonfirmasi bahwa perempuan tersebut terinfeksi pes. Hasil pemeriksaan juga disebut tidak menemukan mikroorganisme yang berkaitan dengan pekerjaannya.
Meski demikian, kondisi seputar kematian tersebut serta berbagai langkah pencegahan yang dilakukan setelahnya telah memicu perhatian dari otoritas kesehatan di Amerika Serikat, Eropa, dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Pes pneumonik merupakan salah satu bentuk pes yang dapat menular antarmanusia melalui droplet. Namun, berbeda dengan sejumlah penyakit pernapasan seperti Covid-19, penularannya relatif kurang efisien dan umumnya membutuhkan kontak dekat.
Pes pada manusia saat ini juga umumnya dapat diobati dengan antibiotik apabila dikenali dan ditangani secara cepat.
(dec)




























