Logo Bloomberg Technoz

Vietnam mengalami hal serupa. Sentimen FTSE tidak serta-merta membuat investor asing masuk. 

Net sell bursa saham Vietnam kemarin, (6/10/2026), menunjukkan net sell US$100,8 juta atau sekitar  Rp1,78 triliun, berdasarkan data Bloomberg.

Secara bulanan, net sell sebesar US$238,2 juta. Sejak awal tahun, nilai net sell di Vietnam bahkan mencapai US$3,87 miliar atau setara sekitar Rp68,92 triliun.

Yield Global Tekan Emerging Market

Analis Kiwoom Sekuritas Liza mengatakan, tekanan terhadap pasar Indonesia terutama berasal dari kondisi global, sementara pelemahan rupiah merupakan dampak lanjutan.

Menurut dia, tingginya yield obligasi negara maju membuat aset risk-free kembali atraktif sehingga investor global cenderung melakukan rebalancing atau flight to quality dari pasar negara berkembang.

"Jadi yang bikin pusing sekarang sudah bukan Fed rate lagi. Yang jadi masalah itu yield tenor panjang di seluruh dunia, yang terdorong inflasi energi dan kebutuhan pendanaan yang luar biasa besar," kata Liza.

Liza mengatakan yield US Treasury 10 tahun yang berada di atas 5% membuat selisih imbal hasil dengan Surat Berharga Negara (SBN) Indonesia menjadi semakin tipis setelah memperhitungkan risiko pasar negara berkembang.

"Kalau aset paling aman sedunia sudah kasih yield di atas 5%, selisihnya dengan SBN kita jadi terlalu tipis buat bayar risiko emerging market," ujarnya.

Pengamat pasar modal Hans Kwee juga menilai aksi net sell asing merupakan kombinasi antara sentimen makro global dan pelemahan rupiah. Menurut dia, tingginya US Treasury yield membuat imbal hasil risk-free di negara maju tetap menarik dan mendorong investor mengurangi risiko di pasar negara berkembang.

"Concern utamanya bermula dari kondisi makro global, yang kemudian terefleksi pada volatilitas kurs domestik," kata Hans.

(dhf)

No more pages