Upaya untuk mengakuisisi tambang bauksit Antam itu juga didorong sebagai bagian dari upaya persiapan Inalum melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI).
“Kita ada rencana melengkapi value chain sampai ke tambang, tetapi belum ada detailnya,” kata Direktur Keuangan Inalum Ken Permana kepada Bloomberg Technoz, Jumat (26/9/2025).
Ken mengatakan perseroannya masih menantikan arahan lebih lanjut dari MIND ID terkait dengan rencana akuisisi tambang bauksit tersebut. Dia menuturkan tambang bauksit milik Antam menjadi fokus awal.
“Fokus grup MIND ID dahulu, [pembicaraan], baru informal,” tuturnya.
Di sisi lain, Direktur Utama Inalum Melati Sarnita menargetkan akuisisi tambang bauksit milik Antam rampung sebelum 2030.
Melati mengatakan perseroannya tengah menjalani uji tuntas atau due dilligecence bersama dengan Antam terkait dengan rencana aksuisisi tambang bahan baku alumina tersebut.
Melati membeberkan aset tambang Antam yang tengah dikaji itu berdekatan dengan lokasi pabrik alumina yang dioperasikan PT Borneo Alumina Indonesia (BAI) di Mempawah, Kalimantan Barat.
Adapun, Borneo Alumina Indonesia dikendalikan Inalum dengan kepemilikan saham 60% dan Antam sebesar 40%.
“[Akuisisi] sebelum 2030, saat ini kita diskusi dengan Antam, kita lagi proses due diligence,” kata Melati saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VI DPR RI di parlemen, Jakarta, Senin (29/9/2025).
Inalum belakangan merasa perlu mengamankan tambang bauksit untuk menjaga pasokan bahan baku alumina tersebut.
Apalagi, belakangan investasi pabrik pemurnian atau smelter alumina di Indonesia makin masif setelah larangan ekspor bauksit efektif Juni 2023. Sebagian besar pabrik alumina domestik saat ini dikuasi perusahaan China.
"Walaupun hari ini kami hanya ukurannya 275.000 per tahun, ini kita dapat tingkatkan pada 2031 itu menjadi 1 juta aluminium per tahun," kata Melati.
Adapun, BPI Danantara telah melakukan peletakan batu pertama atau groundbreaking proyek smelter Inalum di Mempawah pada Februari.
Menurut perhitungan Danantara, total investasi untuk pembangunan smelter aluminium itu mencapai US$2,4 miliar atau sekitar Rp40,21 triliun.
Sementara itu, kebutuhan investasi untuk smelter grade alumina refinery (SGAR) Fase 2 di Mempawah mencapai US$890 juta atau sekitar Rp14,9 triliun.
Adapun, rantai pasok pengolahan dan pemurnian bauksit–alumina-aluminium terintegrasi tersebut memiliki kapasitas pengolahan mencapai 3 juta metrik ton bauksit menjadi 1 juta metrik ton alumina per tahun. Lalu, 1 juta metrik ton alumina tersebut bakal diolah menjadi 600.000 metrik ton aluminium.
Lewat proyek itu, kapasitas produksi alumina domestik bakal meningkat menjadi 2 juta metrik ton per tahun dengan bijih bauksit yang terserap sebesar 6 juta metrik ton per tahun.
(azr/wdh)
































