Dari pasar obligasi Asia, tekanan mulai kembali terasa di sebagian negara. Yield obligasi Indonesia berdenominasi dolar AS (INDON) kembali naik tipis 0,1 bps ke 6,23%, diikuti dengan yield obligasi Singapura yang naik 2 bps jadi 2,48%. Sedangkan, yield obligasi Filipina naik cukup tajam 5,6 bps ke 7,57%.
Pergerakan yield di pasar obligasi dipicu oleh sikap pejabat The Fed yang belakangan ini cenderung hawkish di tengah penantian rilisnya risalah rapat FOMC. Sikap hawkish The Fed terutama karena inflasi dinilai masih terlalu tinggi dan berisiko bertahan lebih lama.
Sejumlah pejabat The Fed bahkan melihat adanya ruang untuk kenaikan suku bunga. Gubernur The Fed Dallas Lorie Logan memperkirakan suku bunga perlu dinaikkan setidaknya 50 bps lagi, sementara Gubernur The Fed New York John Williams melihat kemungkinan satu kali kenaikan tambahan pada akhir tahun.
Begitu juga dengan Anggota Dewan Gubernur The Fed Michael Barr dan Gubernur The Fed Kansas City Jeffrey Schmid yang menilai pengetatan tambahan diperlukan untuk membawa inflasi kembali ke target 2%. Kekhawatiran mereka juga diperkuat dengan adanya dampak guncangan pasokan yang dinilai kian persisten dan belum sepenuhnya tercermin dalam inflasi.
Bagi rupiah, sikap hawkish ini berpotensi mengerek yield obligasi domestik yang pada akhirnya berdampak pada kenaikan bunga utang. Pada lelang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) atau sukuk, meski permintaan naik tetapi pemerintah menyerap lebih sedikit, lantaran yield terkerek naik pada sebagian besar seri.
Di tengah kondisi ini, rupiah berpotensi kembali tertekan dan bergerak melemah dengan target terdekat di level Rp17.950/US$.
Hari ini, pelaku pasar menantikan rilisnya data cadangan devisa. Sebelumnya, cadangan devisa terjaga di posisi US$146,5 miliar tertopang oleh penerbitan surat utang.
(dsp/aji)




























