Ihwal masifnya rencana pembangunan pabrik pemurnian alumina dan smelter aluminium, Cecep menyatakan masih berkoordinasi dengan Kementerian Perindustrian untuk mengetahui kebutuhan bijih bauksit pada masa mendatang.
“Kalau yang itu kita belum dapatkan angka pastinya mana yang akan komisioning tahun depan, berapa jumlah kebutuhannya itu kita dapatkan sih belum,” ungkap dia.
Sekadar catatan, Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA) menyatakan total kapasitas pabrik pengolahan alumina Indonesia diproyeksikan meningkat empat kali lipat dari 7 juta metrik ton pada 2025 menjadi 32,5 juta metrik ton pada 2030, dan hampir seluruhnya didorong oleh smelter-grade alumina (SGA).
Sementara itu, kapasitas smelter berbasis chemical grade alumina (CGA) diproyeksikan tetap stagnan di angka 300.000 metrik ton.
CREA mengungkapkan jika seluruh proyek terealisasi, permintaan bahan baku domestik bakal meroket dari 14 juta menjadi sekitar 65 juta metrik ton bijih bauksit setiap tahun.
Dengan skenario tersebut, CREA meramal cadangan bauksit terbukti Indonesia yang saat ini mencapai 1 miliar metrik ton berisiko habis dalam waktu kurang dari 12 tahun.
“Risiko ini diperparah oleh ketergantungan yang sangat besar pada investasi asing terutama dari China, serta dominasi tenaga kerja kontrak,” ungkap Analis Industri CREA Syahdiva Moezbar, dalam riset berjudul Indonesia Aluminium Downstream: Following Nickel Into a Captive Coal Boom.
Adapun, Ditjen Minerba Kementerian ESDM mencatat realisasi produksi bijih bauksit sepanjang 2025 mencapai 33,75 juta.
Tahun ini, dalam rencana kerja strategis (renstra) Kementerian ESDM, produksi bijih bauksit ditarget sebesar 22,64 juta metrik ton.
Adapun, berdasarkan data analis logam dasar Fastmarkets Andry Farida kapasitas produksi pabrik pengolahan alumina saat ini mencapai 9 juta metrik ton per tahun. Pabrik pengolahan tersebut membutuhkan sekitar 33—36 juta metrik ton bauksit per tahun.
Terdapat total 16 pabrik pengolahan yang beroperasi dan masih dalam tahap rencana pembangunan, nantinya kapasitas produksi bisa mencapai 27,3 juta metrik ton.
Jika seluruh pabrik pengolahan tersebut beroperasi, kebutuhan bijih bauksit bisa mencapai 95—105 juta metrik ton per tahun.
Untuk aluminium, terdapat empat smelter yang sudah beroperasi dengan produksi 1,1 juta metrik ton dari total kapasitas produksi 1,98 juta metrik ton. Smelter tersebut membutuhkan sekitar 2,2 juta metrik ton alumina per tahun.
Pabrik pengolahan alumina yang sudah beroperasi a.l. Well Harvest Winning (Hongqiao) dengan produksi 2 juta metrik ton, PT Indonesia Chemical Alumina (ICA) sebesar 300.000 metrik ton, dan PT Borneo Alumina Indonesia (BAI) sebesar 1 juta metrik ton (potensial 2 juta metrik ton).
Lalu, PT BAI Bintan Alumina Indonesia (Nanshan) sebesar 4 juta metrik ton, serta PT Borneo Alumindo Prima - BAP (Jinjing Group) sebesar 1,75 juta metrik ton dengan potensi ekspansi hingga 6 juta metrik ton.
Sementara itu, sejumlah proyek masih belum beroperasi, yakni PT Kalimantan Alumina Nusantara (KAN) dengan kapasitas potensial 1 juta metrik ton, East Hope Group sebesar 6 juta metrik ton, PT Laman Mining sebesar 4 juta metrik ton, serta PT Dharma Inti Bersama (DIB) Harita sebesar 2 juta metrik ton.
Proyek lainnya a.l. PT Tian Shan Alumina Indonesia, PT Quality Sukses Sejahtera, PT Dinamika Sejahtera Mandiri, PT Parenggan Makmur Sejahtera, PT Persada Pratama Cemerlang, PT Sumber Bumi Marau, dan PT Kalbar Bumi Perkasa juga tercatat belum beroperasi tanpa perincian kapasitas tambahan.
Untuk smelter aluminium yang telah beroperasi meliputi Inalum dengan produksi 250.000 metrik ton (potensi 600.000 metrik ton), Huachin Aluminium Indonesia sebesar 500.000 metrik ton (potensial 1 juta metrik ton), Alamtri (Adaro) Kaltara sebesar 100.000 metrik ton dengan rencana peningkatan kapasitas hingga 500.000 metrik ton dan potensi 1,5 juta metrik ton, serta Tsingshan JV Xinfa – Juwan sebesar 250.000 metrik ton.
Beberapa proyek dijadwalkan mulai beroperasi pada 2026, yakni Tsingshan JV Xinfa – Taijing dengan kapasitas 180.000 metrik ton (potensial 600.000 metrik ton), Tsingshan JV Xinfa – Xianfeng sebesar 50.000 metrik ton (potensial 250.000 metrik ton), serta PT Bintan Electrolytic Aluminium (BEA) sebesar 250.000 metrik ton.
Sementara itu, proyek lain masih belum beroperasi a.l. Shandong Weiqiao–Harita JV dan Nanshan yang masing-masing memiliki potensi kapasitas 1 juta metrik ton, serta sejumlah proyek dalam tahap rencana seperti milik East Hope Group kapasitas produksi 2,4 juta metrik ton), dan CMOC Group kapasitas produksi 2 juta metrik ton, Bosai Minerals Group kapasitas produksi 1 juta metrik ton.
Selanjutnya, PT Borneo Alumindo Prima Kaltara kapasitas produksi 1 juta metrik ton, Dharma Inti Bersama (DIB) Harita kapasitas produksi 1 juta metrik ton, danPT Cita Mineral Investindo Tbk. kapasitas produksi 500.00 metrik ton.
(azr/wdh)






























