Setelah menyelesaikan dua merger besar perusahaan Hollywood yang telah berusia seabad hanya dalam waktu lebih dari satu tahun, Ellison kini menghadapi tantangan besar untuk mengintegrasikan seluruh bisnis tersebut. Ini berarti menghapus bisnis dan pekerjaan yang tumpang tindih tanpa memicu kemarahan Hollywood, yang sudah mengalami penurunan dan sejak awal menentang konsolidasi tersebut. Skydance juga harus mengelola total utang hampir US$87 miliar sembari mematuhi jadwal ketat perilisan film di bioskop sebagaimana ditetapkan dalam penyelesaian gugatan.
Saham perusahaan hasil merger tersebut ditutup turun 2,5% menjadi US$9,53 pada Selasa. Saham Warner Bros berhenti diperdagangkan di bursa Nasdaq. Skydance akan diperdagangkan dengan kode saham SKYD di Bursa Efek New York.
“Logikanya masuk akal,” kata Michael J. Wolf, CEO Activate Strategy, dalam wawancara dengan Bloomberg TV pada Senin. “Skala menempatkan mereka pada posisi yang tepat. Sekarang mereka harus membuktikan hasil dari skala tersebut.”
Perjalanan menuju penyelesaian merger tersebut kerap berliku dan beberapa kali tampak berisiko gagal. Namun, Ellison bertekad untuk menyelesaikannya dan menilai kesepakatan tersebut penting agar perusahaan mampu bersaing dengan Netflix, Walt Disney Co, Amazon.com Inc, dan Apple Inc.
Paramount sepakat mengakuisisi Warner Bros. pada Februari setelah melalui perang penawaran selama berbulan-bulan dengan Netflix. Sebelumnya, Netflix telah berkomitmen membeli studio dan bisnis streaming Warner Bros., tetapi tidak jaringan televisinya. Ellison memenangkan kesepakatan tersebut dengan menaikkan harga penawaran dan meminta ayahnya, Larry Ellison, memberikan jaminan pendanaan secara pribadi. Paramount membayar biaya pembatalan kesepakatan sebesar US$2,8 miliar kepada Netflix atas nama Warner Bros. dan berargumen bahwa mereka dapat menyelesaikan transaksinya dengan cepat. Paramount berjanji membayar biaya kepada pemegang saham Warner Bros. sekitar US$7 juta per hari jika kesepakatan tidak rampung pada 30 September. Biaya yang disebut “ticking fee” tersebut mencapai sekitar US$42 juta saat transaksi akhirnya ditutup, menurut laporan kepada regulator pasar modal.
Meski Paramount berhasil memperoleh persetujuan antimonopoli dengan cepat dari Departemen Kehakiman AS, Uni Eropa, dan yurisdiksi utama lainnya, proses tersebut tertunda akibat dua gugatan yang diajukan oleh 12 negara bagian dan Writers Guild of America. Mereka mengkhawatirkan ancaman kenaikan harga bagi konsumen dan berkurangnya lapangan kerja. Ribuan aktor, sutradara, penulis, dan produser menandatangani surat untuk memprotes kesepakatan tersebut.
Sebagian besar kekhawatiran berasal dari janji Paramount untuk menghasilkan sinergi lebih dari US$6 miliar per tahun dalam tiga tahun setelah merger ditutup. Gerry Cardinale, pendiri sekaligus managing partner RedBird Capital Partners dan investor Paramount, mengatakan terdapat cara lain untuk memangkas biaya dan meningkatkan efisiensi operasi tanpa sekadar mengurangi jumlah karyawan. Sebuah perusahaan tidak akan menghabiskan miliaran dolar per tahun untuk membuat film, “dan kemudian menganggap seluruh dasar rencana bisnis Anda adalah memecat semua orang di Hollywood,” kata Cardinale dalam konferensi Bloomberg Screentime di Los Angeles pekan lalu. “Justru sebaliknya.”
RedBird menyuntikkan US$4 miliar dalam bentuk pendanaan ekuitas baru ke dalam kesepakatan tersebut, menurut seseorang yang mengetahui investasi itu. Komitmen baru tersebut membuat total kontribusi RedBird kepada Skydance menjadi US$6 miliar, kata sumber tersebut. Dia meminta identitasnya dirahasiakan karena pendanaan itu belum diumumkan kepada publik.
Dalam pernyataannya, Skydance mengatakan penghematan terutama akan berasal dari penggabungan teknologi dan operasional lainnya, seperti negosiasi dengan pemasok, pengurangan biaya pemasaran yang tumpang tindih, serta konsolidasi aset real estat. Langkah tersebut akan membuat perusahaan “lebih ramping dan lebih gesit” serta memungkinkannya menurunkan beban utang menjadi tiga kali lipat dari laba tahunan yang disesuaikan pada akhir 2029. Perusahaan baru tersebut memperkirakan dapat menghasilkan arus kas bebas lebih dari US$10 miliar pada 2030.
Namun, utang Skydance akan terus membebani perusahaan. Beban bunga yang harus dibayar kini jauh lebih tinggi dibandingkan jika perusahaan menerbitkan utang beberapa bulan sebelumnya, karena kekhawatiran inflasi telah mendorong biaya pinjaman global. Paramount menjual pinjaman dan obligasi senilai US$52 miliar hanya dalam waktu satu pekan, periode yang sangat singkat untuk transaksi utang apa pun, terlebih untuk salah satu pembiayaan terbesar dalam sejarah.
Sebagai bagian dari kesepakatan penyelesaian dengan negara-negara bagian yang gugatannya dipimpin Jaksa Agung California Rob Bonta, Paramount berjanji merilis sedikitnya 30 film per tahun di bioskop dan mempertahankan penayangannya secara eksklusif selama 45 hari sebelum tersedia untuk ditonton di rumah. Perusahaan juga sepakat membentuk dewan independensi editorial untuk organisasi beritanya, CBS dan CNN, sebagai upaya mengatasi kekhawatiran bahwa kedekatan keluarga Ellison dengan Presiden Donald Trump dapat mendorong mereka memengaruhi pemberitaan.
Ellison sejauh ini sepakat mempertahankan CBS dan CNN sebagai dua entitas terpisah dengan kepemimpinan berbeda. Saat mengumumkan jajaran eksekutif baru pada Senin, dia mengatakan CEO CNN Mark Thompson akan tetap menjabat dan Bari Weiss mempertahankan posisinya sebagai pemimpin redaksi CBS News. Thompson mengakui adanya “kekhawatiran mengenai momen ini”, tetapi dalam surat kepada staf dia mengatakan memiliki “keyakinan nyata” bahwa jajaran pimpinan baru Skydance memahami “dan akan sepenuhnya mendukung prinsip dan praktik jurnalisme independen seperti yang selama ini dijunjung CNN.”
Dana Goldberg, eksekutif lama Skydance Media yang mengembangkan dan memproduksi film seperti Top Gun: Maverick dan beberapa film Mission: Impossible, serta Josh Greenstein, mantan presiden Sony Pictures’ Motion Picture Group yang mengawasi film dan waralaba seperti Spider-Man, akan bersama-sama memimpin Skydance Motion Picture Group yang baru. James Gunn dan Peter Safran, co-chief DC Studios, unit Warner Bros yang mengelola karakter komik seperti Batman, Superman, dan Wonder Woman, akan tetap menjalankan perannya di Skydance.
Casey Bloys, yang membawa sejumlah kesuksesan bagi HBO, mulai dari spin-off Game of Thrones, House of the Dragon, hingga drama The White Lotus, akan memimpin divisi streaming Skydance dan mengawasi program HBO Max serta Paramount+. George Cheeks, yang bergabung dengan Paramount pada 2020, akan mengelola divisi televisi yang baru dibentuk, yang mencakup gabungan studio, jaringan, olahraga, dan merek televisi kabel milik Paramount dan Warner Bros.
JB Perrette, yang memimpin peluncuran global layanan streaming HBO Max di Warner Bros., akan terus bekerja sama dengan Bloys sebagai co-chair dan chief business officer Skydance TV dan Skydance streaming.
Penunjukan Kreiz mengejutkan banyak pihak di Wall Street. Namun, pengalamannya melengkapi latar belakang Ellison, dengan pengalaman bertahun-tahun mengawasi perusahaan publik besar serta lebih dari tiga dekade di industri hiburan.
Selama menjabat di Mattel, Kreiz berperan penting dalam mendorong perusahaan mainan tersebut memanfaatkan merek-merek terkenalnya seperti Barbie dan Hot Wheels, serta mengembangkannya menjadi waralaba yang dapat mencakup film, televisi, dan gim.
Salah satu eksekutif yang tidak akan menjadi bagian dari jajaran baru Skydance adalah David Zaslav, presiden dan CEO Warner Bros., yang akan meninggalkan perusahaan dengan potensi pesangon tunai dan penghargaan saham senilai lebih dari US$667 juta akibat penjualan tersebut.
Ellison akan menjabat sebagai chairman Skydance, sementara jajaran direksi akan mencakup seluruh anggota dewan Paramount saat ini serta tiga anggota baru, yakni Kreiz, Laurene Powell Jobs, pendiri sekaligus presiden Emerson Collective, dan Bobby Kotick, mantan CEO perusahaan gim Activision Blizzard. Mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair akan bergabung sebagai penasihat dewan. Blair saat ini menjabat sebagai executive chairman Tony Blair Institute for Global Change, organisasi nirlaba yang membantu para pemimpin pemerintahan menghadapi era kecerdasan buatan (AI).
(bbn)































