Harga minyak AS bergerak naik dan diperdagangkan di sekitar US$90 per barel pada awal perdagangan Asia. Minyak mentah Brent ditutup di sekitar US$101 per barel setelah sebelumnya turun hingga 3,3%, ketika investor menimbang peningkatan ekspor dari Timur Tengah terhadap meningkatnya serangan Iran terhadap kapal tanker di Selat Hormuz.
Prospek saham Asia tetap positif, dengan indeks MSCI Asia Pacific bergerak di dekat rekor tertinggi ketika investor bertaruh perusahaan-perusahaan mampu menghadapi risiko kenaikan suku bunga dan biaya energi. Sebagian besar optimisme tersebut berpusat pada belanja terkait AI senilai ratusan miliar dolar oleh perusahaan-perusahaan teknologi besar, yang mendorong permintaan terhadap cip memori dan komponen elektronik lainnya.
Meski ekspektasi terhadap arah kebijakan moneter global dan perkembangan geopolitik menjadi perhatian utama investor, faktor lain yang kurang banyak dibahas adalah ekspektasi kinerja keuangan yang kuat, kata Kyle Rodda dari Capital.com.
Analis memperkirakan laba perusahaan-perusahaan dalam indeks S&P 500 pada kuartal III akan meningkat sekitar 25% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, berdasarkan data yang dihimpun Bloomberg Intelligence.
“Data pertumbuhan ekonomi terbaru menunjukkan kinerja yang kuat dan revisi proyeksi laba S&P 500 tetap positif,” tulis para ahli strategi Goldman Sachs Group Inc yang dipimpin Ben Snider dalam catatan terbaru. “Kami memperkirakan sebagian besar perusahaan sekali lagi akan melampaui estimasi laba konsensus pada kuartal ini.”
Seiring berlanjutnya fragmentasi geopolitik, sebagian besar perekonomian utama mampu menyerap kenaikan harga energi dan tarif lebih baik dari perkiraan, menurut Tiffany Wilding dan Andrew Balls dari Pacific Investment Management Co.
“Siklus investasi AI yang pesat, kemampuan konsumen dan China dalam menyerap kenaikan biaya, serta pendekatan bertahap yang ditempuh bank sentral dapat membantu menopang pertumbuhan sekaligus menjaga inflasi tetap terkendali,” tambah mereka.
(bbn)










