Pejabat keamanan maritim dan eksekutif perusahaan pelayaran menyatakan bahwa belum jelas apakah eskalasi terbaru ini akan menyebabkan penurunan pengiriman di Selat Hormuz. Dampak terhadap aliran gas melalui laut, yang juga sedikit meningkat dalam beberapa pekan terakhir, juga masih belum pasti.
Seberapa banyak energi yang mengalir melalui Selat Hormuz sangat penting bagi arah harga minyak dan gas, terutama menjelang musim dingin di Belahan Bumi Utara. Kenaikan harga baru-baru ini telah memicu kekhawatiran bahwa tekanan inflasi yang berkelanjutan dapat memicu kenaikan suku bunga di berbagai negara maju.
Dalam upaya melonggarkan pasar, sejumlah negara konsumen pekan lalu mengumumkan rencana untuk melepaskan jutaan barel cadangan darurat, sementara Presiden AS Donald Trump telah mengkaji cara-cara untuk menstabilkan harga bahan bakar dalam negeri menjelang pemilihan sela.
Setiap penurunan aliran pasokan melalui Selat Hormuz hanya akan menambah risiko-risiko tersebut.
Ketidakpastian hingga Ketakutan
“Iran tampaknya berusaha untuk mempertebal kendali atas Selat Hormuz melalui salah satu instrumen paksaan yang paling mapan: ketakutan dan ketidakpastian,” tulis Dimitris Maniatis, CEO perusahaan manajemen risiko Marisks, dalam sebuah catatan.
“Iran tidak perlu menghentikan setiap kapal; yang dibutuhkan adalah agar industri maritim meyakini bahwa kapal mana pun bisa menjadi target berikutnya.”
Sebagian besar kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz melakukannya melalui koridor di dekat pantai Oman. Mereka umumnya melintas dengan sinyal digital yang dimatikan, sehingga para pedagang dan analis harus meneliti citra satelit dan data pelayaran untuk mencoba menghitung dengan tepat berapa banyak pasokan yang sedang bergerak.
Pada hari Selasa, Kementerian Pertahanan Oman mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa mereka telah menyelamatkan 10 awak dari kapal komersial bernama On Peace, yang terbakar setelah diserang. Data kapal menunjukkan bahwa kapal tersebut adalah kapal tanker minyak.
Arus minyak melalui jalur perairan tersebut terus meningkat sejak awal musim panas, dan pekan lalu beberapa bank di Wall Street menyatakan bahwa volume pengiriman mendekati tingkat sebelum perang. Para trader pada sektor komoditas terkemuka mengatakan pekan ini dalam Energy Intelligence Forum di London bahwa mereka memperkirakan arus pasokan dari Timur Tengah berada di sekitar 80% dari level sebelum konflik dimulai. Hal itu membantu menurunkan harga minyak mentah Brent kembali di bawah $100 per barel.
Pengiriman gas alam cair (LNG) memang lebih terbatas sejak perang dimulai, tetapi volume pengiriman tersebut juga diam-diam meningkat sebelum serangan terbaru. Kenaikan tersebut lebih lambat dibandingkan dengan minyak, yang mencerminkan fakta bahwa LNG diangkut menggunakan armada kapal khusus yang jauh lebih kecil yang menjaga bahan bakar tersebut tetap dalam suhu kriogenik.
Serangan terbaru juga telah memicu lonjakan baru dalam tarif angkutan. Biaya pengangkutan minyak dari dalam Teluk Persia ke China naik ke rekor US$1,3 juta per hari pada hari Senin, menurut data dari Baltic Exchange di London. Indikator tersebut rata-rata mendekati US$60.000 per hari tahun lalu, dan telah melonjak seiring berkurangnya jumlah pemilik kapal yang bersedia melintasi Selat Hormuz.
(bbn)






























