Sekitar 4,5 juta barel dari jumlah tersebut tersedia untuk diekspor melalui Pelabuhan Yanbu di pesisir Laut Merah, wilayah barat kerajaan.
Serangan tersebut menghentikan jalur vital yang selama ini menjaga aliran minyak tetap berjalan—bahkan saat masa perang Iran—tanpa harus bergantung pada rute berbahaya melalui Selat Hormuz.
Pasokan tersebut telah menjadi penopang penting bagi pasar, serta membantu mencegah harga minyak melonjak lebih jauh.
Namun, rute tersebut menghadapi tekanan dalam beberapa bulan terakhir akibat serangan Houthi Yaman terhadap kapal tanker dan infrastruktur Arab Saudi di sepanjang pesisir barat kerajaan.
Penutupan pipa Timur-Barat sempat memaksa Arab Saudi mengalihkan kembali ekspor minyaknya melalui Selat Hormuz. Pengiriman tersebut, ditambah dengan pulihnya pasokan melalui Yanbu, mendorong total ekspor kerajaan bulan lalu ke level tertinggi sejak Januari.
(bbn)



























